Stadion BJ Habibie Sunyi Senyap: Menelusuri Alasan Keamanan di Balik Laga PSM Makassar vs Bhayangkara FC Tanpa Penonton
KabarHarian — Stadion Gelora BJ Habibie yang biasanya menjadi kawah candradimuka bagi lawan-lawan PSM Makassar dipastikan akan mendingin pada pekan ke-11 Super League 2025/2026. Kabar kurang sedap menghampiri para suporter setia Laskar Pinisi setelah otoritas keamanan secara resmi tidak memberikan izin kehadiran penonton dalam laga krusial menjamu Bhayangkara FC. Keputusan ini praktis mengubah atmosfer pertandingan yang seharusnya menjadi pesta sepak bola di tanah Parepare menjadi laga yang sunyi di balik pintu tertutup.
Lampu Hijau Pertandingan, Lampu Merah untuk Suporter
Duel antara PSM Makassar melawan Bhayangkara FC yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, pukul 16.30 WITA tetap akan bergulir sesuai rencana. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar demi kelancaran jalannya kompetisi: absennya pemain ke-12 di tribun stadion. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen klub melalui Media Officer PSM Makassar, Sulaiman Abdul Karim.
“Izin pertandingan sudah keluar, namun sayangnya tidak turun izin dengan penonton,” ujar pria yang akrab disapa Sule tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media pada Kamis, 30 April 2026. Keputusan ini bukanlah tanpa alasan yang kuat. Pihak kepolisian memiliki pertimbangan berlapis yang membuat mereka harus mengambil langkah preventif guna menjaga kondusivitas wilayah Sulawesi Selatan secara umum.
Badai Agenda Nasional: Alasan di Balik Pengetatan Keamanan
Pertandingan ini jatuh pada momen yang cukup krusial di kalender nasional. Berdekatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei serta Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei, konsentrasi aparat keamanan terpecah ke berbagai titik vital. Sebagai gerbang utama di kawasan timur Indonesia, Makassar diprediksi akan menjadi pusat aksi massa yang memerlukan pengawalan ekstra ketat.
“Personel kepolisian dipertebal di Makassar karena memang momennya bertepatan dengan May Day dan Hardiknas. Fokus pengamanan harus diprioritaskan pada agenda-agenda nasional tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Sulaiman. Dengan ribuan personel yang dikerahkan untuk menjaga aksi penyampaian aspirasi di ibu kota provinsi, ketersediaan petugas untuk mengawal ribuan suporter sepak bola di Parepare menjadi sangat terbatas.
Surat Resmi Polda Sulsel dan Rentetan Potensi Kerawanan
Polda Sulawesi Selatan tidak main-main dalam memetakan risiko. Melalui surat resmi bernomor B/1023/IV/PAM.3.3./2026/Roops, kepolisian telah mengirimkan pemberitahuan kepada Direktur I-League dan manajemen PSM Makassar. Dalam dokumen tersebut, terungkap bahwa ada dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang cukup kompleks di awal Mei 2026.
Selain peringatan May Day dan Hardiknas, Sulawesi Selatan juga tengah diramaikan oleh berbagai kegiatan lokal yang menguras energi aparat. Beberapa di antaranya adalah rencana konsolidasi aksi terkait isu gaji tenaga honorer PPPK paruh waktu, perhelatan balap jalanan atau Drag Race, hingga penyelenggaraan UMKM Expo 2026 yang berskala besar. Rentetan acara ini dianggap menciptakan beban kerja yang luar biasa bagi institusi kepolisian di wilayah hukum tersebut.
Sorotan pada Permasalahan Internal Manajemen PSM
Ada poin menarik sekaligus sensitif yang tertuang dalam surat dari Polda Sulsel tersebut. Pihak kepolisian juga menyoroti adanya potensi kerawanan yang bersumber dari internal manajemen PSM Makassar itu sendiri. Meski tidak dirinci secara eksplisit dalam dokumen publik, kepolisian mengisyaratkan bahwa dinamika di tubuh manajemen dapat memicu reaksi dari kelompok suporter tertentu yang berpotensi mengganggu keselamatan ofisial dan perangkat pertandingan.
Analisis intelijen kepolisian memandang bahwa mengizinkan ribuan orang masuk ke stadion di tengah isu internal klub dan keterbatasan personel pengamanan adalah langkah yang terlalu berisiko. Oleh karena itu, skema pertandingan tanpa penonton diambil sebagai jalan tengah agar kompetisi tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek keselamatan publik.
Dampak Psikologis dan Strategis bagi Laskar Pinisi
Bagi PSM Makassar, bermain di Stadion Gelora BJ Habibie tanpa dukungan suporter adalah kerugian besar. Sejarah mencatat bahwa tuah stadion di Parepare ini sangat bergantung pada tekanan mental yang diberikan suporter kepada tim tamu. Tanpa nyanyian dan koreografi dari tribun, PSM harus berjuang ekstra keras melawan Bhayangkara FC yang dikenal sebagai tim yang disiplin dan taktis.
Terlebih lagi, catatan statistik menunjukkan bahwa kedua tim ini sering terlibat dalam permainan keras. Predikat sebagai tim kolektor kartu kuning terbanyak di liga membuat laga ini diprediksi akan tetap berlangsung panas meski tanpa penonton. Absennya suporter mungkin akan sedikit meredam tensi di tribun, namun di dalam lapangan, pertarungan dipastikan tetap akan meledak-ledak demi mengamankan poin penuh di papan klasemen.
Harapan bagi Suporter Setia
Keputusan pahit ini diharapkan dapat dimaklumi oleh seluruh pendukung setia Juku Eja. Pihak manajemen mengimbau agar para suporter tidak memaksakan diri datang ke area stadion dan lebih memilih untuk memberikan dukungan melalui layar kaca atau menggelar nonton bareng di lokasi masing-masing dengan tetap menjaga ketertiban.
Surat keputusan ini juga telah ditembuskan kepada para pemangku kepentingan sepak bola nasional, mulai dari Ketua Umum PSSI hingga jajaran petinggi di lingkungan Polri. Langkah ini menjadi pengingat bahwa di atas urusan sepak bola, faktor keamanan dan stabilitas nasional tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Kini, fokus beralih kepada bagaimana para pemain di lapangan tetap mampu memberikan performa terbaik mereka meski harus berlaga di tengah keheningan tribun yang dingin.