Tragedi Kemanusiaan di Tapanuli Selatan: Nestapa Tuty Daulay yang Ditandu 7 Jam Saat Hamil Tua

Siska Amelia | KabarHarian
17 May 2026, 10:08 WIB
Tragedi Kemanusiaan di Tapanuli Selatan: Nestapa Tuty Daulay yang Ditandu 7 Jam Saat Hamil Tua

KabarHarian — Di balik narasi kemajuan zaman dan pembangunan yang kerap digaungkan, sebuah potret memilukan justru datang dari pelosok Tapanuli Selatan (Tapsel). Kisah ini bukan sekadar berita tentang jalan rusak, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang menguji batas ketabahan seorang ibu bernama Tuty Daulay. Warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse ini harus merasakan getirnya perjuangan antara hidup dan mati, ditandu selama tujuh jam menembus medan pegunungan yang ekstrem demi mendapatkan layanan medis.

Perjuangan di Atas Tandu Bambu yang Mengiris Hati

Pemandangan memilukan terekam dalam sebuah video yang menjadi perbincangan hangat di Sumatera Utara. Dalam rekaman tersebut, Tuty yang tengah hamil tua tampak terbaring lemah di dalam sebuah tandu darurat yang dibuat dari kain dan sebatang bambu. Belasan warga desa, dengan peluh yang bercucuran, bahu-membahu menggotong tubuh Tuty secara bergantian. Mereka bukan sedang melakukan tradisi, melainkan sedang berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang dikandungnya.

Baca Juga Potret Kelam Kebebasan Pers di Batam: Ironi Intimidasi Aparat di Tengah Perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia
Potret Kelam Kebebasan Pers di Batam: Ironi Intimidasi Aparat di Tengah Perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia

Perjalanan tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus menempuh jarak sekitar 30 kilometer dari Dusun Aek Nabara menuju Dusun Hasahatan di Kecamatan Sipirok. Tidak ada aspal mulus di sana; yang ada hanyalah jalan setapak berbatu dan tanah liat yang licin, membelah punggung perbukitan Tapanuli Selatan. Selama tujuh jam, guncangan tandu menjadi saksi bisu betapa mahalnya akses kesehatan bagi masyarakat pinggiran.

Saksi Kunci: Kesaksian Mantri Desa yang Menembus Kegelapan

Samsul Bahri Sihombing, seorang Mantri Desa yang menjadi garda terdepan kesehatan di wilayah tersebut, menceritakan kronologi peristiwa yang menyesakkan dada ini. Samsul mengaku pertama kali mendapatkan panggilan darurat pada Jumat sore, 8 Mei 2026. Tanpa membuang waktu, ia segera bergegas menuju lokasi Tuty berada.

“Saya berangkat sore itu juga dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WIB setelah berjalan kaki cukup jauh. Setibanya di sana, saya langsung melakukan pemeriksaan awal. Dengan berat hati, menurut amatan medis saya saat itu, bayi yang ada di dalam kandungan Ibu Tuty diduga kuat sudah meninggal dunia,” tutur Samsul dengan nada getir saat dihubungi oleh tim redaksi KabarHarian.

Baca Juga Mengintip Kemeriahan Long Weekend di Lapangan Merdeka Medan: Destinasi Favorit Warga Pencari Hiburan Murah di Tengah Kota
Mengintip Kemeriahan Long Weekend di Lapangan Merdeka Medan: Destinasi Favorit Warga Pencari Hiburan Murah di Tengah Kota

Mengingat kondisi Tuty yang semakin kritis dan keterbatasan alat medis di dusun terpencil tersebut, Samsul menyarankan agar pasien segera dirujuk ke rumah sakit di Sipirok, ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, untuk menjalani operasi darurat. Namun, kendala klasik kembali menghadang: ketiadaan akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

7 Jam Menuju Harapan yang Berujung Duka

Keputusan berat diambil. Pada Sabtu pagi, 9 Mei 2026, warga desa berkumpul. Mereka menyiapkan tandu bambu sederhana. Perjalanan panjang dimulai sejak matahari belum tinggi hingga sore hari. Mereka berjalan kaki sejauh 30 kilometer hanya untuk mencapai titik di mana mobil bisa menjemput rombongan tersebut di Dusun Hasahatan.

Setibanya di Rumah Sakit di Sipirok pada Sabtu sore, kondisi Tuty sudah sangat lemah. Tindakan operasi baru bisa dilakukan pada keesokan harinya, Minggu, 10 Mei 2026. Meskipun tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Tuty, takdir berkata lain bagi sang jabang bayi. Bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia dalam kandungan, sebuah kenyataan pahit yang harus diterima keluarga akibat keterlambatan penanganan yang dipicu oleh rusaknya infrastruktur.

Baca Juga Saga Transfer Mohamed Salah: Akhir Era di Anfield dan Teka-teki Klub Baru Sang Raja Mesir
Saga Transfer Mohamed Salah: Akhir Era di Anfield dan Teka-teki Klub Baru Sang Raja Mesir

Desa yang Terlupakan: Tanpa Listrik dan Tanpa Tenaga Medis

Tragedi yang menimpa Tuty Daulay bukanlah insiden pertama di wilayah tersebut. Samsul Bahri menjelaskan bahwa Dusun Aek Nabara hanyalah satu dari tiga dusun di Desa Dalihan Na Tolu yang kondisinya sangat memprihatinkan. Di Dusun Pambongol, kejadian serupa sudah terjadi dua kali, di mana warga yang sakit harus ditandu selama berjam-jam menuju pusat Kecamatan Arse.

Kondisi desa ini seolah terputus dari peradaban modern. Selain jalan yang hancur lebur, jaringan listrik dari PLN belum menyentuh permukiman warga. Satu-satunya sumber penerangan adalah perangkat tenaga surya bantuan pemerintah yang kini kondisinya sudah rusak dimakan usia. “Penerangan tenaga surya itu sudah tidak layak lagi. Kami butuh perhatian pemerintah, entah itu perbaikan tenaga surya atau pembangunan kincir air,” tambah Samsul.

Ironisnya lagi, ketiadaan tenaga medis yang menetap menambah daftar panjang penderitaan warga. Meski sebelumnya pernah ada bidan yang ditugaskan di desa tersebut, kondisi geografis yang terisolasi dan minimnya fasilitas membuat para tenaga kesehatan tidak betah. Mereka lebih memilih mengajukan pindah tugas ke tempat yang lebih manusiawi aksesnya.

Baca Juga Dilema Perdamaian Trump: Menakar Peluang Proposal 14 Poin Iran di Tengah Kebuntuan Diplomasi Global
Dilema Perdamaian Trump: Menakar Peluang Proposal 14 Poin Iran di Tengah Kebuntuan Diplomasi Global

Respons Gubernur Bobby Nasution dan Polemik Kewenangan

Menanggapi peristiwa viral ini, Penjabat Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa permasalahan utama dalam kasus ini bukanlah pada fasilitas kesehatan di rumah sakit, melainkan pada infrastruktur jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten.

“Kami di provinsi menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya. Persoalannya jelas, ini bukan di fasilitas kesehatan, tapi di infrastruktur jalan kabupaten. Kami akan mengecek apakah Pemerintah Kabupaten Tapsel sudah menganggarkan perbaikan untuk tahun ini atau belum,” ujar Bobby saat ditemui di Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Bobby menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebenarnya memiliki skema Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) yang bisa digunakan daerah untuk membangun infrastruktur. Namun, hal ini sangat bergantung pada pengajuan dari pemerintah kabupaten setempat. “Dana provinsi ada untuk membantu daerah melalui BKP, tergantung apakah daerah itu mengajukannya atau tidak,” tegasnya.

Mengejar Standar Puskesmas Rawat Inap

Sebagai langkah solutif jangka panjang, Bobby Nasution mendorong agar setiap kabupaten/kota meningkatkan standar Puskesmas mereka agar bisa menjadi Puskesmas Rawat Inap, terutama di wilayah yang jaraknya lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit pusat. Program ini sedianya direncanakan untuk tahun 2027, namun Bobby menginstruksikan percepatan di tahun ini.

Baca Juga Dominasi Berakhir: Pep Guardiola Ucapkan Selamat pada Arsenal yang Sah Menjadi Raja Baru Liga Inggris
Dominasi Berakhir: Pep Guardiola Ucapkan Selamat pada Arsenal yang Sah Menjadi Raja Baru Liga Inggris

“Kami harapkan kabupaten/kota mengajukan Puskesmas mereka untuk ditingkatkan standarnya. Jika syarat jarak di atas 30 kilometer terpenuhi, provinsi akan membantu anggarannya. Ini penting agar kejadian seperti di Tapsel tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Menanti Langkah Nyata Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan

Hingga berita ini diturunkan, Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, dilaporkan telah mengunjungi dusun tempat tinggal Tuty Daulay setelah berita ini viral di media sosial. Meski awalnya enggan memberikan komentar panjang kepada media, publik kini menanti aksi nyata dari pemerintah daerah untuk segera memperbaiki akses jalan yang telah memakan korban jiwa tersebut.

Kematian bayi Tuty Daulay menjadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan bahwa keterlambatan pembangunan infrastruktur bukan sekadar masalah ekonomi atau logistik, melainkan masalah nyawa manusia. Masyarakat Dusun Aek Nabara tidak butuh janji di masa kampanye; mereka butuh jalan yang layak agar tidak ada lagi ibu hamil yang harus bertaruh nyawa di atas tandu bambu selama tujuh jam lamanya.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *