Jalur Trekking Tertimbun Longsor, Wisata Wae Rebo di Manggarai Ditutup Sementara Demi Keselamatan

Andre Pratama | KabarHarian
16 May 2026, 10:08 WIB
Jalur Trekking Tertimbun Longsor, Wisata Wae Rebo di Manggarai Ditutup Sementara Demi Keselamatan

KabarHarian — Kabar kurang sedap datang dari jantung pegunungan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Destinasi wisata ikonik Desa Adat Wae Rebo terpaksa harus menghentikan aktivitas pariwisatanya untuk sementara waktu. Keputusan pahit ini diambil menyusul bencana tanah longsor yang menutup akses jalur trekking utama menuju desa yang tersohor dengan julukan “Surga di Atas Awan” tersebut.

Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Manggarai dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama ambruknya tebing di sepanjang jalur pendakian. Material tanah dan bebatuan dilaporkan menutupi badan jalan setapak yang menjadi satu-satunya akses bagi wisatawan untuk mencapai pemukiman adat tersebut. Kondisi ini membuat perjalanan menuju Wae Rebo menjadi sangat berisiko dan nyaris mustahil untuk dilewati dengan aman.

Kronologi Longsor dan Kondisi Jalur Pendakian

Menurut laporan yang dihimpun oleh tim redaksi KabarHarian, titik longsor terparah berada di kawasan perkebunan milik warga, tepat sebelum memasuki area ‘Rumah Kentongan’. Area ini merupakan salah satu titik krusial dalam perjalanan mendaki menuju Wae Rebo. Obhy Dermawan, salah seorang pekerja pariwisata yang bertugas di kawasan Wae Rebo, mengonfirmasi bahwa material longsoran menutup akses jalan secara total.

Baca Juga Darurat Tata Kelola Pariwisata: Hanya 10 Agen Travel di Nusa Penida yang Kantongi Izin Resmi
Darurat Tata Kelola Pariwisata: Hanya 10 Agen Travel di Nusa Penida yang Kantongi Izin Resmi

“Longsor ini terjadi akibat curah hujan yang sangat ekstrem belakangan ini. Cuaca di lokasi hingga saat ini masih sering diguyur hujan lebat, yang membuat kondisi tanah menjadi sangat labil,” ujar Obhy saat dikonfirmasi pada Sabtu (16/5/2026). Ia menjelaskan bahwa tumpukan material tanah tidak hanya mempersulit mobilitas, tetapi juga menciptakan ancaman nyata bagi siapa pun yang nekat melintas.

Hingga saat ini, pihak pengelola bersama masyarakat setempat terus memantau pergerakan tanah di lokasi kejadian. Kekhawatiran akan adanya longsor susulan menjadi alasan utama mengapa penutupan ini dilakukan secara total bagi pengunjung umum. Keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas tertinggi di atas target kunjungan wisata.

Langkah Antisipasi dan Penutupan Akses

Keputusan untuk menutup sementara destinasi wisata kelas dunia ini bukanlah perkara mudah, mengingat Wae Rebo adalah magnet utama pariwisata di daratan Flores. Namun, melihat kondisi medan yang curam dan licin, langkah ini dianggap paling bijak. Pihak pengelola tidak ingin mengambil risiko yang dapat membahayakan nyawa pengunjung, terutama mengingat jalur trekking Wae Rebo yang membutuhkan stamina fisik dan kewaspadaan tinggi.

Baca Juga Wacana Penutupan Program Studi Tidak Relevan, Universitas Udayana Tekankan Pentingnya Kajian Akademik Mendalam
Wacana Penutupan Program Studi Tidak Relevan, Universitas Udayana Tekankan Pentingnya Kajian Akademik Mendalam

“Kami sangat mengimbau kepada para wisatawan dan agen perjalanan untuk menunda rencana kunjungan ke Wae Rebo hingga situasi benar-benar dinyatakan aman. Kami tidak ingin ada insiden yang tidak diinginkan karena kondisi alam yang sedang tidak bersahabat ini,” tambah Obhy. Penutupan ini akan terus dievaluasi secara berkala dengan melihat perkembangan cuaca dan proses pembersihan material longsor.

Bagi wisatawan yang sudah terlanjur berada di Manggarai atau berencana melakukan perjalanan dalam waktu dekat, disarankan untuk mencari destinasi alternatif di sekitar wilayah Ruteng atau pesisir Labuan Bajo sembari menunggu informasi resmi mengenai pembukaan kembali jalur Wae Rebo.

Mengenal Pesona Wae Rebo: Warisan Budaya Dunia

Wae Rebo bukan sekadar desa biasa. Terletak di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini merupakan salah satu pemukiman adat tertinggi di Indonesia. Keunikan utama desa ini terletak pada tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang. Arsitektur tradisional ini telah bertahan selama berabad-abad dan menjadi simbol keharmonisan antara manusia dengan alam dan leluhur.

Baca Juga Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung 9 Mei 2026: Layanan Praktis dan Syarat Lengkap Perpanjangan
Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung 9 Mei 2026: Layanan Praktis dan Syarat Lengkap Perpanjangan

Karena lokasinya yang terpencil dan dikelilingi oleh hutan pegunungan yang asri, Wae Rebo menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat lain. Udara yang sejuk, hamparan hijau yang menyegarkan mata, serta keramahtamahan warga suku Manggarai menjadikan setiap perjalanan menuju desa ini sebagai sebuah ziarah budaya yang mendalam. Tak heran jika pada tahun 2012, Wae Rebo menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam ajang Asia Pacific Heritage Awards.

Perjalanan menuju Wae Rebo biasanya dimulai dari Desa Denge. Dari sana, wisatawan harus melakukan trekking selama kurang lebih 2 hingga 3 jam melewati hutan rimbun. Jalur inilah yang sekarang terdampak longsor. Keberadaan Rumah Kentongan yang disebut oleh Obhy sebelumnya merupakan pos penting di mana wisatawan biasanya beristirahat sejenak sebelum memasuki area pemukiman utama.

Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Pariwisata NTT

Kejadian longsor di Wae Rebo ini menjadi pengingat akan kerentanan sektor pariwisata terhadap perubahan cuaca dan kondisi alam. Nusa Tenggara Timur, meskipun dikenal dengan keindahan sabananya, juga memiliki wilayah pegunungan yang rawan longsor saat musim penghujan tiba. Infrastruktur pendukung pariwisata di daerah terpencil seringkali menjadi yang paling terdampak ketika bencana alam melanda.

Baca Juga Strategi Polres Gianyar Perkuat Ketahanan Pangan: Panen Raya 5 Ton Jagung dan Peluncuran SPPG untuk Generasi Sehat
Strategi Polres Gianyar Perkuat Ketahanan Pangan: Panen Raya 5 Ton Jagung dan Peluncuran SPPG untuk Generasi Sehat

Pemerintah daerah dan otoritas pariwisata diharapkan dapat memberikan perhatian lebih pada mitigasi bencana di titik-titik wisata petualangan seperti ini. Perbaikan jalur pendakian, pemasangan tanda peringatan dini, serta edukasi bagi pemandu wisata lokal menjadi kunci agar pariwisata tetap berkelanjutan meskipun dihadapkan pada tantangan iklim.

Harapan untuk Pemulihan Cepat

Masyarakat Wae Rebo yang sangat bergantung pada sektor pariwisata tentu berharap kondisi ini segera membaik. Selain sebagai sumber penghasilan, kehadiran wisatawan juga menjadi sarana bagi mereka untuk memperkenalkan kekayaan budaya Manggarai kepada dunia luar. Gotong royong untuk membersihkan jalur trekking diharapkan dapat segera dilakukan setelah cuaca mulai stabil.

Bagi para pelancong, momen penutupan ini bisa menjadi pengingat untuk selalu melakukan riset mendalam sebelum bepergian, terutama ke destinasi berbasis alam di musim hujan. Wae Rebo mungkin sedang beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kunjungan manusia, namun pesonanya dipastikan tidak akan pudar. Ketika gerbang pendakian kembali dibuka nanti, Surga di Atas Awan ini akan kembali menyambut dunia dengan kabut tipis dan kehangatan kopi khas Manggarai yang melegenda.

Baca Juga Panduan Lengkap Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung-Tabanan Hari Ini, Kamis 7 Mei 2026: Simak Prosedur Terbaru!
Panduan Lengkap Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung-Tabanan Hari Ini, Kamis 7 Mei 2026: Simak Prosedur Terbaru!

Redaksi KabarHarian akan terus memperbarui informasi terkait status pembukaan jalur wisata Wae Rebo. Tetaplah waspada dan pastikan keselamatan Anda menjadi prioritas dalam setiap petualangan.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *