Wajah Baru Singaraja Memakan Korban Layanan Air: Ribuan Pelanggan Perumda Tirta Hita Buleleng Terdampak Proyek Titik Nol

Andre Pratama | KabarHarian
12 May 2026, 20:20 WIB
Wajah Baru Singaraja Memakan Korban Layanan Air: Ribuan Pelanggan Perumda Tirta Hita Buleleng Terdampak Proyek Titik Nol

KabarHarian — Denyut nadi kehidupan di pusat Kota Singaraja, Buleleng, mendadak melambat seiring dengan terhentinya kucuran air bersih ke ribuan rumah tangga. Ambisi pemerintah daerah untuk mempercantik kawasan Titik Nol Kota Singaraja kini harus dibayar dengan terganggunya kebutuhan paling mendasar warga, yakni akses air bersih. Perumda Tirta Hita Buleleng mengonfirmasi bahwa ribuan pelanggan mereka di wilayah perkotaan terpaksa mengalami krisis air selama beberapa hari terakhir akibat proyek vital penataan kawasan tersebut.

Langkah penataan kota yang direncanakan secara estetis ini ternyata berdampak langsung pada jaringan pipa transmisi yang tertanam di bawah aspal kota tua tersebut. Proses perbaikan dan pengkopelan jaringan pipa yang dilakukan oleh tim teknis Perumda Tirta Hita menjadi konsekuensi logis dari perubahan struktur lanskap di kawasan Titik Nol. Meski tujuannya adalah peningkatan kualitas infrastruktur jangka panjang, bagi warga yang bergantung pada aliran pipa setiap harinya, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan aktivitas domestik.

Titik Nol Singaraja Bersolek, Layanan Air Terhenti Sementara

Direktur Utama Perumda Tirta Hita Buleleng, Made Lestariana, secara terbuka mengakui adanya gangguan masif yang dirasakan oleh pelanggan setianya. Menurut data yang dihimpun, gangguan layanan ini telah dimulai sejak Senin (11/5/2026) dan diprediksi akan berlangsung hingga Rabu (13/5/2026). Durasi tiga hari ini merupakan waktu yang krusial bagi tim teknis untuk menyelesaikan pemindahan jalur pipa agar sinkron dengan desain baru kawasan Titik Nol.

Baca Juga Tragedi Jembatan Gantung Cunca Wulang: Dua Wisatawan Austria Tewas Terhempas, Alarm Keras Keamanan Wisata Labuan Bajo
Tragedi Jembatan Gantung Cunca Wulang: Dua Wisatawan Austria Tewas Terhempas, Alarm Keras Keamanan Wisata Labuan Bajo

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Pengerjaan di lapangan memang cukup kompleks karena melibatkan pengkopelan jaringan transmisi utama. Ini bukan sekadar perbaikan rutin, melainkan pemindahan jalur pipa yang krusial demi mendukung penataan wajah kota Singaraja,” ungkap Lestariana saat memberikan keterangan resmi di ruang kerjanya pada Selasa (12/5/2026).

Gangguan ini bukan tanpa alasan. Posisi pipa transmisi lama di sekitar titik nol kota Singaraja dinilai sudah tidak ideal lagi. Beberapa bagian pipa ditemukan melintang dengan kedalaman yang kurang mencukupi, sehingga sangat berisiko rusak jika terpapar beban dari pembangunan infrastruktur baru di atasnya. Oleh karena itu, penyempurnaan posisi pipa menjadi harga mati agar di masa depan tidak terjadi kebocoran yang justru akan merusak keindahan kawasan yang sedang ditata tersebut.

Daftar Wilayah Terdampak: Dari Jantung Kota hingga Kawasan Pesisir

Cakupan wilayah yang terdampak gangguan air ini tergolong sangat luas, mencakup sedikitnya 14 desa dan kelurahan yang menjadi urat nadi perekonomian dan pemukiman di Buleleng. Warga di Kelurahan Paket Agung, Banjar Tegal, dan Liligundi harus mulai bersabar dengan bak penampungan yang mengering. Tak hanya itu, wilayah padat penduduk seperti Kampung Singaraja, Astina, Kendran, Banjar Jawa, dan Banjar Bali juga tak luput dari imbas pengerjaan teknis ini.

Baca Juga Update Jadwal Pemeliharaan Jaringan Listrik Bali 22 Mei 2026: Antisipasi Dampak di Wilayah Strategis
Update Jadwal Pemeliharaan Jaringan Listrik Bali 22 Mei 2026: Antisipasi Dampak di Wilayah Strategis

Efek domino dari pengkopelan pipa transmisi Mumbul menuju Tegal Sari ini meluas hingga ke arah barat dan pesisir. Tercatat Kelurahan Kampung Baru, Kampung Kajanan, Kampung Anyar, Kampung Bugis, hingga wilayah Kaliuntu mengalami penurunan tekanan air hingga mati total. Bagi masyarakat di wilayah Banyuasri, Baktiseraga, hingga desa-desa wisata seperti Pemaron, Tukadmungga, Anturan, Kalibukbuk, bahkan sampai ke Kaliasem, gangguan ini menjadi kendala serius, terutama bagi pelaku usaha akomodasi yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih.

“Kami memetakan wilayah-wilayah ini sebagai prioritas distribusi bantuan. Sebagian besar adalah kawasan pemukiman padat dan pusat bisnis, sehingga kebutuhan air per harinya sangat tinggi. Tim kami terus memantau di lapangan untuk memastikan dampak ini tidak meluas lebih lama dari jadwal yang telah ditetapkan,” tambah Lestariana.

Dilema Pembangunan: Mengapa Jalur Pipa Harus Dipindah?

Secara teknis, perbaikan yang dilakukan oleh Perumda Tirta Hita Buleleng melibatkan pemindahan jalur pipa transmisi utama. Pipa-pipa ini merupakan jalur vital yang membawa air dari sumber Mumbul menuju reservoir di Tegal Sari sebelum didistribusikan ke pelanggan. Pengerjaan ini disebut sebagai ‘pengkopelan’, sebuah proses penyambungan kembali antar jalur pipa agar aliran air lebih stabil dan optimal sesuai dengan elevasi jalan yang baru.

Baca Juga Status Jakarta Masih Ibu Kota: MK Tolak Gugatan, PDIP Soroti Urgensi Gibran Berkantor di IKN Guna Tekan Biaya Perawatan
Status Jakarta Masih Ibu Kota: MK Tolak Gugatan, PDIP Soroti Urgensi Gibran Berkantor di IKN Guna Tekan Biaya Perawatan

Lestariana menjelaskan bahwa posisi pipa yang lama terdeteksi melintang di area penataan titik nol dengan kedalaman yang dangkal. Jika tetap dipertahankan pada posisi tersebut, pipa akan rentan terhadap tekanan getaran dan beban berat selama proses konstruksi penataan kawasan berlangsung. “Posisinya kurang dalam, sehingga perlu disempurnakan. Kami menanamnya kembali dengan kedalaman yang lebih aman sesuai standar teknis agar ketahanan pipa terjamin untuk jangka panjang,” jelasnya secara mendalam.

Pekerjaan ini tentu menguras energi tim teknis yang harus bekerja di bawah tekanan waktu agar layanan air segera pulih. Mereka harus berkejaran dengan jadwal pengerjaan proyek penataan kawasan agar tidak saling tumpang tindih. Koordinasi antara Perumda Tirta Hita dan dinas terkait menjadi kunci agar pembangunan kota dan pemenuhan kebutuhan dasar warga bisa berjalan beriringan, meski harus ada fase pengorbanan seperti yang dirasakan saat ini.

Aksi Cepat Tanggap: Distribusi Air Gratis Lewat Armada Tangki

Menyadari beban berat yang dipikul pelanggan, Perumda Tirta Hita Buleleng tidak tinggal diam. Sejak gangguan mulai dirasakan pada Senin pagi, perusahaan pelat merah ini langsung mengerahkan armada mobil tangki untuk menyisir wilayah-wilayah terdampak. Distribusi air bersih dilakukan secara gratis sebagai bentuk kompensasi dan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat yang tagihan airnya mungkin terus berjalan meski keran tak mengeluarkan air.

Baca Juga Rupiah Tembus Rp 17.400: Menkeu Purbaya Tegaskan Fokus pada Ketahanan Energi dan Disiplin Fiskal
Rupiah Tembus Rp 17.400: Menkeu Purbaya Tegaskan Fokus pada Ketahanan Energi dan Disiplin Fiskal

“Sejak kemarin, armada mobil tangki kami kerahkan tanpa henti. Petugas bekerja shift mulai dari pagi hari hingga pukul 23.00 Wita untuk melayani permintaan warga. Hingga laporan terakhir, total sudah 18 tangki air didistribusikan ke berbagai titik secara cuma-cuma,” papar Lestariana. Langkah ini setidaknya menjadi oase kecil bagi warga yang membutuhkan air untuk memasak, mandi, dan kebutuhan mendesak lainnya.

Masyarakat yang membutuhkan pasokan air darurat dihimbau untuk berkoordinasi melalui aparat desa atau kelurahan setempat, atau menghubungi langsung layanan pengaduan pelanggan Perumda Tirta Hita. Meski armada tangki terbatas jumlahnya dibandingkan dengan ribuan pelanggan yang terdampak, upaya ini diharapkan dapat meminimalisir kesulitan warga selama masa pengerjaan berlangsung.

Komitmen Pemulihan dan Harapan Masa Depan

Krisis air akibat perbaikan infrastruktur ini diharapkan menjadi pelajaran berharga dalam perencanaan integrasi pembangunan kota di masa depan. Meskipun gangguan ini bersifat sementara, dampaknya cukup nyata bagi roda ekonomi lokal. Perumda Tirta Hita Buleleng pun berkomitmen untuk mempercepat pengerjaan agar pada Rabu (13/5/2026), aliran air ke rumah pelanggan bisa kembali normal secara bertahap.

Baca Juga Update Jadwal SIM Keliling Badung dan Klungkung 1 Mei 2026: Lokasi Strategis, Biaya, dan Prosedur Lengkap
Update Jadwal SIM Keliling Badung dan Klungkung 1 Mei 2026: Lokasi Strategis, Biaya, dan Prosedur Lengkap

Normalisasi aliran air biasanya membutuhkan waktu beberapa jam hingga tekanan kembali stabil di seluruh jaringan pipa. Oleh karena itu, warga disarankan untuk tetap menampung air sisa yang ada dan menggunakan air dengan bijak hingga distribusi benar-benar pulih total. Perumda juga akan melakukan pembersihan pipa secara berkala setelah perbaikan selesai untuk memastikan air yang sampai ke rumah pelanggan tetap jernih dan bebas dari sedimen akibat pengerjaan fisik.

Pada akhirnya, penataan kawasan Titik Nol Kota Singaraja adalah sebuah langkah maju untuk menjadikan Buleleng lebih indah dan tertata. Namun, sinkronisasi antara pembangunan estetika kota dan pemeliharaan infrastruktur dasar seperti pipa air bersih harus terus menjadi prioritas utama agar kesejahteraan warga tidak terbengkalai demi sebuah keindahan visual semata. KabarHarian akan terus mengawal perkembangan pemulihan layanan air ini hingga kucuran bersih kembali menyapa setiap rumah warga di Singaraja.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *