Tragedi Sungai Buakkang: Pasangan Suami Istri di Gowa Tewas Terseret Arus Saat Mencari Nafkah
KabarHarian — Duka mendalam menyelimuti Dusun Kaluarrang, Desa Buakkang, Gowa, Sulawesi Selatan. Sebuah kegiatan rutin mencari ikan yang seharusnya menjadi rutinitas sederhana bagi pasangan suami istri, Kamuddin (58) dan Lami Dg Ngugi (57), justru berakhir menjadi sebuah tragedi yang memilukan. Pasangan ini dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah terseret arus Sungai Buakkang yang meluap secara mendadak akibat cuaca ekstrem.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi warga sekitar akan keganasan alam, terutama aliran sungai di wilayah Kabupaten Gowa yang kerap berubah drastis saat hujan mengguyur wilayah hulu. Kepergian pasangan ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan warga desa yang mengenal mereka sebagai sosok pekerja keras.
Kronologi Petaka di Tepian Sungai Buakkang
Kejadian naas ini bermula pada Sabtu (9/5), saat Kamuddin dan istrinya, Lami Dg Ngugi, memutuskan untuk turun ke sungai guna menjala ikan. Bagi masyarakat pedesaan di Kecamatan Bungayya, aktivitas mencari ikan di sungai adalah hal lumrah, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk dijual demi menyambung hidup. Namun, pada hari itu, alam berkata lain.
Meskipun cuaca di sekitar lokasi penangkapan ikan mungkin terlihat terkendali, kondisi di wilayah hulu sungai dikabarkan sedang dilanda hujan lebat yang sangat ekstrem. Tanpa peringatan dini, debit air Sungai Buakkang meningkat secara signifikan dan tiba-tiba. Arus besar yang membawa material dari hulu menerjang lokasi tempat pasangan ini berada. Diduga kuat, keduanya tidak sempat menyelamatkan diri ke daratan saat air bah datang menerjang dengan kekuatan yang luar biasa.
Kabar hilangnya pasutri ini segera menyebar ke telinga warga desa, yang kemudian segera melaporkannya ke pihak berwenang. Ketakutan warga terbukti benar; pencarian awal yang dilakukan secara swadaya tidak membuahkan hasil hingga akhirnya tim profesional dari Basarnas dikerahkan ke lokasi kejadian.
Pencarian Intensif dan Penemuan Jasad Kamuddin
Menanggapi laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Makassar, kepolisian, TNI, BPBD Gowa, serta relawan lokal langsung melakukan operasi pencarian dan pertolongan (SAR). Fokus pencarian diarahkan menyusuri aliran sungai yang dikenal memiliki jeram-jeram kecil dan dasar sungai yang berbatu.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Arif Anwar, menjelaskan bahwa pencarian dilakukan dengan membagi tim menjadi beberapa unit kecil guna menyisir setiap sudut sungai yang dicurigai sebagai tempat tersangkutnya korban. Setelah melakukan penyisiran yang melelahkan selama hampir 24 jam, titik terang mulai muncul.
Pada hari Minggu (10/5) sekitar pukul 13.20 Wita, warga dan tim SAR berhasil menemukan jasad Kamuddin. Pria berusia 58 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi yang menyedihkan, di mana tubuhnya masih terlilit jala ikan yang ia gunakan sebelum musibah terjadi. Jasadnya ditemukan tersangkut di aliran sungai, tidak jauh dari titik awal ia dilaporkan hilang. Penemuan ini menjadi sinyal awal bahwa kemungkinan besar sang istri juga mengalami nasib yang sama di sepanjang aliran sungai tersebut.
Titik Terang di Hari Ketiga: Penemuan Sang Istri
Meskipun satu korban telah ditemukan, tim SAR tidak mengendurkan semangat untuk mencari Lami Dg Ngugi. Operasi dilanjutkan hingga hari ketiga, Senin (11/5). Tantangan medan sungai yang licin dan arus yang masih cukup kuat tidak menyurutkan langkah para petugas gabungan dan warga setempat.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil pada pagi hari pukul 08.30 Wita. Jasad Lami Dg Ngugi ditemukan mengapung di aliran sungai, sekitar satu kilometer dari lokasi penemuan suaminya. Kondisi jenazah yang ditemukan cukup jauh dari titik penemuan pertama menunjukkan betapa kuatnya daya dorong arus sungai saat luapan air terjadi pada hari Sabtu tersebut.
“Korban perempuan ditemukan meninggal dunia di aliran sungai, berjarak kurang lebih 1 kilometer dari titik penemuan korban pertama,” ungkap Arif Anwar dalam keterangan resminya. Penemuan jasad Lami sekaligus menandai berakhirnya duka pencarian yang panjang dan melelahkan bagi tim di lapangan.
Solidaritas Tim SAR dan Warga Setempat
Keberhasilan operasi SAR ini tidak lepas dari kerja keras dan koordinasi yang baik antarinstansi. Personel gabungan dari berbagai unsur bahu-membahu menyisir sungai meski harus berhadapan dengan risiko cuaca yang sewaktu-waktu bisa kembali memburuk. Kehadiran warga setempat juga sangat membantu, karena mereka lebih memahami karakteristik medan dan titik-titik sungai yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya material yang hanyut.
Arif Anwar menyatakan bahwa dengan ditemukannya kedua korban, operasi SAR di Sungai Buakkang secara resmi dinyatakan selesai dan ditutup. Segenap unsur yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing dengan ucapan terima kasih atas dedikasi mereka dalam misi kemanusiaan ini.
Jenazah kedua korban segera dievakuasi ke rumah duka untuk kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Isak tangis menyambut kedatangan jenazah pasutri ini, yang selama hidupnya dikenal rukun dan selalu bersama-sama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, hingga maut pun menjemput mereka di tempat dan waktu yang hampir bersamaan.
Imbauan Keselamatan di Tengah Cuaca Ekstrem Gowa
Kejadian tragis ini memicu keprihatinan luas dari pemerintah daerah dan otoritas terkait. Arif Anwar dalam pesannya tidak lupa menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Namun, ia juga menyelipkan imbauan penting bagi masyarakat luas, khususnya mereka yang tinggal di bantaran sungai atau sering beraktivitas di alam terbuka.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau kondisi cuaca dan debit air sungai sebelum beraktivitas, terutama di wilayah yang rawan arus deras saat hujan di hulu,” tambah Arif. Ia menekankan bahwa hujan di wilayah pegunungan atau hulu seringkali tidak dibarengi dengan hujan di hilir, namun dampaknya berupa kiriman air bah bisa sangat mematikan.
Kabupaten Gowa, dengan topografinya yang terdiri dari dataran tinggi dan sungai-sungai besar, memang memiliki risiko hidrometeorologi yang cukup tinggi. Masyarakat diminta untuk lebih waspada dan tidak meremehkan perubahan warna air sungai atau peningkatan debit air sekecil apapun, karena hal tersebut bisa menjadi tanda awal datangnya banjir bandang atau luapan arus deras.
Tragedi di Sungai Buakkang ini menambah daftar panjang kecelakaan air di wilayah Sulawesi Selatan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk senantiasa mengutamakan keselamatan dan kewaspadaan dalam setiap aktivitas, terutama saat berhadapan dengan fenomena alam yang sulit diprediksi.