Amukan Si Jago Merah di Kerobokan: Gudang Furniture Dua Lantai Ludes Terbakar, Diduga Akibat Kelalaian Bakar Sampah
KabarHarian — Sebuah insiden kebakaran hebat kembali menggegerkan warga di kawasan Kuta Utara, Bali. Sebuah gudang furniture berlantai dua yang berlokasi di Jalan Tangkuban Perahu, Kelurahan Kerobokan Kelod, menjadi sasaran amukan si jago merah pada Minggu (10/5/2026) siang. Kejadian yang berlangsung di tengah teriknya matahari tersebut tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga melumat habis stok material kayu dan peralatan produksi yang berada di dalamnya.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.30 WITA ini menciptakan kepanikan luar biasa bagi warga sekitar dan para pekerja gudang. Kepulan asap hitam pekat terlihat membubung tinggi ke langit, menandakan besarnya volume material yang terbakar di dalam gedung produksi tersebut. Beruntung, meski kerugian material ditaksir cukup besar, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Aroma Menyengat saat Istirahat
Menurut informasi yang dihimpun tim redaksi di lapangan, kebakaran pertama kali disadari oleh sejumlah karyawan yang tengah beristirahat. Mengingat hari Minggu biasanya intensitas pekerjaan sedikit menurun, beberapa pekerja memanfaatkan waktu siang itu untuk melepas lelah di lantai dua bangunan tersebut.
Namun, suasana tenang tersebut berubah menjadi mencekam ketika mereka mulai mencium bau asap yang sangat menyengat. Tak lama berselang, suhu di dalam ruangan terasa meningkat drastis. Saat salah satu karyawan memeriksa kondisi di luar melalui jendela, api rupanya sudah berkobar hebat di bagian belakang gedung dan mulai merembet ke area produksi utama.
Sontak, para karyawan yang berada di lantai dua langsung berlarian menyelamatkan diri melalui tangga darurat. Kecepatan api merambat sangat sulit dibendung karena isi gudang didominasi oleh material kayu kering dan bahan kimia pembuat furniture yang bersifat sangat mudah terbakar.
Respon Cepat Pemilik dan Tim Pemadam Kebakaran
Made Sujana (60), sang pemilik gudang, mengaku sangat terkejut melihat api yang begitu cepat membesar. Dalam situasi genting tersebut, ia masih sempat melakukan tindakan preventif dengan mematikan seluruh aliran listrik di bangunan itu untuk mencegah terjadinya hubungan arus pendek atau korsleting yang bisa memperparah keadaan.
Sujana tidak hanya mengandalkan panggilan telepon. Menyadari besarnya risiko api merembet ke pemukiman warga yang padat, ia bergegas mendatangi kantor pemadam kebakaran terdekat secara langsung untuk meminta bantuan. Laporan resmi kemudian masuk ke layanan darurat 110 Polres Badung sekitar pukul 14.05 WITA, yang segera ditindaklanjuti dengan pengerahan armada pemadam kebakaran dari berbagai titik.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Badung bertindak cepat dengan menurunkan personel dari berbagai pos strategis, di antaranya Pos Kunti, Pos Majapahit, Pos Puspem, hingga Pos Dalung. Mengingat skala kebakaran yang cukup luas, tim bantuan dari Damkar Kota Denpasar juga turut dikerahkan ke lokasi untuk membantu proses lokalisasi api.
Totalitas Petugas dalam Menjinakkan Api
Kepala Dinas Damkarmat Badung, I Wayan Wirya, menjelaskan bahwa medan di sekitar lokasi cukup menantang karena padatnya lalu lintas dan struktur bangunan yang saling berdekatan. Namun, berkat koordinasi yang apik antara tim Badung dan Denpasar, api berhasil dijinakkan sebelum merembet ke bangunan rumah tinggal yang berada tepat di samping gudang tersebut.
“Kami mengerahkan kekuatan penuh karena material di dalam gudang adalah kayu, yang artinya potensi api untuk kembali menyala sangat besar. Kami juga mendapat dukungan dari tujuh armada Damkar Kota Denpasar. Fokus utama kami saat itu adalah melokalisasi api agar tidak terjadi perambatan ke pemukiman warga sekitar,” jelas I Wayan Wirya kepada awak media.
Setelah berjibaku selama beberapa jam, petugas akhirnya berhasil melakukan proses pendinginan guna memastikan tidak ada bara api yang tersisa di bawah tumpukan material kayu yang hangus.
Dugaan Penyebab: Kelalaian dari Sisa Pembakaran Sampah
Berdasarkan penyelidikan awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian, sumber api diduga kuat berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang tidak diawasi dengan baik. Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Agus Pasek Sudina, mengungkapkan bahwa posisi awal api muncul tepat di area pembuangan sampah di belakang bangunan gudang.
“Dugaan awal kami kebakaran ini dipicu oleh sisa api dari tempat pembakaran sampah yang posisinya berada di belakang bangunan gudang. Angin yang bertiup kencang kemungkinan besar menerbangkan bara api ke arah tumpukan kayu di area produksi,” ujar Kompol Agus Pasek.
Meskipun taksiran kerugian materiil awal berdasarkan laporan hasil pemadaman tercatat sekitar Rp 20 juta, angka ini kemungkinan bisa bertambah mengingat banyaknya mesin produksi dan stok kayu kualitas tinggi yang ikut ludes terbakar. Luas area yang terdampak mencapai kurang lebih 2 are, yang mencakup hampir seluruh bagian utama bangunan operasional furniture tersebut.
Pelajaran Berharga bagi Masyarakat
Insiden kebakaran di Kerobokan ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat luas mengenai bahaya membakar sampah sembarangan, terutama di musim kemarau atau saat cuaca berangin. Kelalaian kecil dalam mengawasi api bisa berdampak fatal pada aset berharga bahkan nyawa manusia.
Pihak kepolisian pun mengimbau agar pemilik usaha maupun warga sekitar lebih waspada dalam mengelola limbah atau sampah. Disarankan untuk tidak melakukan pembakaran sampah di dekat bangunan permanen, apalagi yang menyimpan bahan-bahan mudah terbakar seperti kayu dan kain.
Hingga berita ini diturunkan, lokasi kejadian masih dipasang garis polisi guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, pemilik gudang dan para pekerja masih berusaha menyelamatkan sisa-sisa material yang mungkin masih bisa digunakan di tengah tumpukan abu yang menghitam.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus kebakaran di wilayah Bali dalam beberapa bulan terakhir, yang menuntut kesadaran kolektif akan pentingnya mitigasi bencana kebakaran di tingkat lingkungan terkecil maupun sektor industri kecil menengah.