Wajah Baru Pesisir Bintaro: Proyek Strategis Kampung Nelayan Merah Putih Mataram Kejar Target Rampung Akhir Tahun

Andre Pratama | KabarHarian
09 May 2026, 06:07 WIB
Wajah Baru Pesisir Bintaro: Proyek Strategis Kampung Nelayan Merah Putih Mataram Kejar Target Rampung Akhir Tahun

KabarHarian — Di tengah deburan ombak Selat Lombok yang membasahi pesisir Ampenan, sebuah transformasi besar tengah berlangsung. Kawasan Bintaro, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong pemukiman nelayan tradisional di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini sedang bersolek. Pemerintah sedang memacu pengerjaan proyek ambisius bertajuk Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengubah wajah pesisir menjadi lebih modern, tertata, dan produktif.

Proyek yang digadang-gadang akan menjadi ikon baru ekonomi maritim di Mataram ini menargetkan penyelesaian pada akhir tahun ini. Dengan alokasi anggaran yang mencapai angka Rp 11 miliar dari pemerintah pusat, pembangunan ini bukan sekadar pembenahan estetika semata, melainkan sebuah upaya sistematis untuk mengangkat derajat hidup para pahlawan protein bangsa di wilayah tersebut.

Sinergi Pusat dan Daerah dalam Penataan Kawasan

Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Bintaro merupakan bukti nyata kolaborasi antara Pemerintah Kota Mataram dan pemerintah pusat. Dalam skema kerja sama ini, peran dibagi secara strategis untuk memastikan proyek berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Kota Mataram mengambil peran krusial dalam penyediaan lahan, sementara seluruh aspek teknis dan finansial dikelola langsung oleh pusat.

Baca Juga Manfaatkan Kelengahan Sopir Saat Ganti Ban, Pencuri Tas di SPBU Jembrana Akhirnya Bertekuk Lutut
Manfaatkan Kelengahan Sopir Saat Ganti Ban, Pencuri Tas di SPBU Jembrana Akhirnya Bertekuk Lutut

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram, Bachtiar Yulianto, menjelaskan bahwa porsi kerja daerah difokuskan pada pembersihan dan penyiapan administrasi lahan. “Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram hanya menyiapkan lahan saja. Untuk pembangunan fisik, pengawasan, dan detail teknis lainnya, semuanya dikerjakan oleh pemerintah pusat melalui kementerian terkait,” ungkap Bachtiar saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa standar pembangunan mengikuti kriteria nasional yang telah ditetapkan untuk kawasan kampung nelayan modern. Dengan pengawasan ketat dari pusat, diharapkan anggaran senilai Rp 11 miliar tersebut dapat terdistribusi secara maksimal pada infrastruktur yang memiliki daya tahan tinggi terhadap korosi air laut dan iklim pesisir yang ekstrem.

Fasilitas Pendingin: Solusi Modern bagi Hasil Tangkapan

Salah satu kendala utama yang dihadapi nelayan tradisional di Indonesia, termasuk di Mataram, adalah fluktuasi harga akibat ikan yang cepat membusuk setelah didaratkan. Menjawab tantangan tersebut, KNMP Bintaro akan dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang canggih, salah satunya adalah ruangan pendingin atau cold storage yang representatif.

Baca Juga Skandal Pecatan TNI di Mataram: Tipu Tiga Wanita dan Bawa Kabur Motor, Begini Modus Liciknya!
Skandal Pecatan TNI di Mataram: Tipu Tiga Wanita dan Bawa Kabur Motor, Begini Modus Liciknya!

Kehadiran cold storage ini diprediksi akan menjadi pengubah permainan (game changer) bagi ekosistem perikanan di Ampenan. Nelayan tidak perlu lagi terburu-buru menjual hasil tangkapannya dengan harga murah kepada tengkulak karena takut ikan rusak. Dengan adanya ruang penyimpanan ini, kualitas ikan tetap terjaga, sehingga nilai jualnya tetap tinggi saat sampai ke tangan konsumen atau pasar industri.

“Kehadiran Kampung Nelayan ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan dan infrastruktur pendukung bagi nelayan yang ada di wilayah Bintaro dan sekitarnya,” tambah Bachtiar. Infrastruktur ini diharapkan dapat memutus rantai kerugian nelayan akibat pasokan yang melimpah (oversupply) yang seringkali justru membuat harga jatuh di pasaran lokal.

Integrasi Hunian dan Ekosistem Industri Kecil

Konsep Kampung Nelayan Merah Putih tidak berdiri sendiri sebagai kawasan industri semata. Pemerintah merancang kawasan ini sebagai satu kesatuan ekosistem yang terintegrasi. Hal ini dikonfirmasi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, yang menekankan bahwa KNMP akan menjadi pusat ekonomi perikanan modern yang menyatu dengan pemukiman.

Baca Juga Masa Depan Hijau Bali: Memadukan Adrenalin Sport Tourism dengan Semangat Konservasi Alam
Masa Depan Hijau Bali: Memadukan Adrenalin Sport Tourism dengan Semangat Konservasi Alam

Menariknya, fasilitas KNMP dirancang agar terkoneksi langsung dengan hunian nelayan yang menempati Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Dengan demikian, mobilitas nelayan dari tempat tinggal ke tempat kerja, yakni pelabuhan kecil dan pusat pengolahan ikan, menjadi sangat efisien. Pola integrasi ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan teratur, jauh dari kesan kumuh yang selama ini sering disematkan pada kampung nelayan.

“Kampung Nelayan Merah Putih ini akan menjadi satu kesatuan ekosistem industri kecil nelayan di Kota Mataram,” ujar Alwan. Menurutnya, integrasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa pembangunan fisik selaras dengan pemberdayaan manusianya. Dengan fasilitas yang lengkap, para istri nelayan juga bisa terlibat dalam pengolahan produk turunan ikan di area yang sama, sehingga pendapatan keluarga tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut mentah.

Harapan di Balik Pembangunan Infrastruktur Pesisir

Masyarakat nelayan di Bintaro kini menaruh harapan besar pada proyek yang tengah berjalan ini. Selama bertahun-tahun, mereka bergelut dengan keterbatasan alat dan fasilitas yang membuat mereka sulit bersaing. Dengan rampungnya KNMP di akhir tahun, diharapkan ada lompatan kuantum dalam cara kerja dan taraf hidup mereka.

Baca Juga Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Sabtu 16 Mei 2026: Lengkap dengan Panduan Niat dan Keutamaan Ibadah Tepat Waktu
Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Sabtu 16 Mei 2026: Lengkap dengan Panduan Niat dan Keutamaan Ibadah Tepat Waktu

Selain fasilitas perikanan, proyek ini juga diprediksi akan mempercantik estetika kawasan pesisir Mataram. Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan lewat Pelabuhan Ampenan, penataan kampung nelayan ini bisa menjadi daya tarik wisata baru. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati senja, tetapi juga bisa melihat langsung aktivitas ekonomi nelayan yang modern dan higienis.

Pemerintah Kota Mataram terus melakukan pemantauan agar pengerjaan tidak meleset dari jadwal. Meskipun pengerjaan fisik dilakukan oleh pusat, koordinasi lapangan tetap dilakukan secara intensif agar hambatan-hambatan kecil di lokasi dapat segera diatasi. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi percontohan bagi penataan kawasan pesisir lainnya di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Menatap Masa Depan Ekonomi Maritim Mataram

Upaya menghidupkan kembali kejayaan maritim di Mataram melalui Kampung Nelayan Merah Putih adalah langkah jangka panjang yang strategis. Di saat sektor pariwisata terus berkembang, penguatan sektor primer seperti perikanan menjadi pondasi penting untuk ketahanan pangan daerah. Investasi sebesar Rp 11 miliar ini dipandang sebagai modal awal untuk menggerakkan roda ekonomi yang lebih besar di masa depan.

Baca Juga Skandal Hukum di Nusa Tenggara: Tragedi di Gili Trawangan hingga Borok Oknum Jaksa Terbongkar
Skandal Hukum di Nusa Tenggara: Tragedi di Gili Trawangan hingga Borok Oknum Jaksa Terbongkar

Kini, publik tinggal menunggu janji rampungnya proyek ini di penghujung tahun. Jika berjalan sesuai rencana, awal tahun depan akan menjadi babak baru bagi nelayan Bintaro. Mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton di tengah modernisasi kota, tetapi menjadi aktor utama yang berdaya di rumah mereka sendiri. Transformasi dari kampung nelayan tradisional menuju ekosistem industri modern adalah mimpi yang kini mulai menampakkan wujud nyatanya di pesisir Mataram.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *