Dilema Limbah di Klungkung: TOSS Berseri Kampung Gelgel Terpaksa Bakar Residu demi Redam Bau

Andre Pratama | KabarHarian
07 May 2026, 12:07 WIB
Dilema Limbah di Klungkung: TOSS Berseri Kampung Gelgel Terpaksa Bakar Residu demi Redam Bau

KabarHarian — Kabut asap tipis tampak menyelinap di sela-sela tumpukan material sisa di pinggir jalan kabupaten yang mengarah ke jalur Bypass IB Mantra, Klungkung, Bali. Di balik kepulan itu, terdapat sebuah potret getir mengenai tata kelola sampah yang tengah menemui jalan buntu. Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Berseri di Desa Kampung Gelgel kini berada dalam posisi simalakama, terpaksa menempuh langkah ekstrem dengan membakar sampah residu guna menekan aroma busuk yang mulai mengganggu kenyamanan publik.

Krisis Pengelolaan di Titik Nadir

Langkah pembakaran ini bukanlah sebuah pilihan yang diambil dengan sukacita, melainkan sebuah bentuk keputusasaan akibat mandeknya sistem distribusi sampah di tingkat kabupaten. Sejak pengiriman residu ke TOSS Center Karangdadi dihentikan secara total pada Maret lalu, tumpukan sampah yang tidak bisa diolah kembali kian menggunung di fasilitas desa tersebut. Dampaknya, bau menyengat mulai menyeruak, memaksa pengelola untuk mengambil tindakan cepat meskipun berisiko.

“Mau tidak mau, kondisi ini harus kami hadapi. Jika sampah-sampah residu ini dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan, baunya akan jauh lebih mengganggu masyarakat yang melintas di area ini. Akhirnya, kami terpaksa membakarnya sedikit demi sedikit agar volume tumpukan tidak semakin liar,” ungkap Hermawan, Ketua TOSS Berseri Kampung Gelgel, saat memberikan keterangannya kepada tim liputan kami pada Kamis (7/5/2026).

Baca Juga Update Jadwal Pemeliharaan Jaringan Listrik Bali 22 Mei 2026: Antisipasi Dampak di Wilayah Strategis
Update Jadwal Pemeliharaan Jaringan Listrik Bali 22 Mei 2026: Antisipasi Dampak di Wilayah Strategis

Dilema Antara Asap dan Aroma Busuk

Berdasarkan observasi langsung di lapangan, lokasi TOSS Berseri memang tergolong strategis namun sekaligus rentan karena berada di tepian jalan kabupaten. Seorang petugas terlihat dengan telaten memilah tumpukan residu untuk dibakar secara bertahap. Tujuannya jelas: meminimalisir kepulan asap agar tidak terlalu pekat. Namun, tantangan alam seperti arah angin sering kali membawa sisa pembakaran tersebut melintasi jalur lalu lintas kendaraan.

Hermawan menjelaskan bahwa residu yang dibakar saat ini adalah akumulasi dari pengolahan selama kurang lebih tiga hari terakhir. Meskipun jumlah penduduk di wilayah Kampung Gelgel tidak terlalu besar, volume sampah tetap meningkat secara signifikan, terutama saat musim penghujan tiba. Air hujan yang membasahi tumpukan sampah organik dan residu mempercepat proses pembusukan, yang pada gilirannya memicu aroma tidak sedap yang menusuk hidung.

“Hari ini jumlahnya cukup banyak karena faktor cuaca beberapa hari terakhir yang sering hujan. Kami khawatir jika didiamkan, masyarakat akan melayangkan protes keras karena baunya yang sangat menyengat,” tambahnya dengan nada khawatir.

Baca Juga Masa Depan Hijau Bali: Memadukan Adrenalin Sport Tourism dengan Semangat Konservasi Alam
Masa Depan Hijau Bali: Memadukan Adrenalin Sport Tourism dengan Semangat Konservasi Alam

Rantai Masalah Pasca-Penutupan TPA Sente

Persoalan ini sebenarnya merupakan efek domino dari kebijakan penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sente. Sebelumnya, TOSS Berseri memiliki jadwal rutin untuk membuang sampah residu sebanyak dua kali dalam seminggu. Dengan kapasitas olah sekitar 500 kilogram per hari, jadwal tersebut dirasa sangat ideal untuk menjaga kebersihan dan sirkulasi udara di fasilitas desa.

Namun, setelah gerbang TPA Sente digembok dan TOSS Center Karangdadi tak lagi menerima kiriman, desa-desa di Klungkung seolah dibiarkan berjuang sendirian. Hermawan mengakui bahwa dirinya berada di persimpangan jalan yang sulit. Di satu sisi, tumpukan sampah yang dibiarkan akan menjadi sumber penyakit dan bau. Di sisi lain, pembakaran sampah menimbulkan polusi udara yang juga tidak sehat.

“Sejauh ini memang belum ada komplain resmi dari warga sekitar atau pengguna jalan. Kami berupaya melakukan pengawasan sangat ketat, memastikan api tetap terkendali dan asapnya tidak membubung terlalu besar. Kami membakarnya dalam skala kecil secara kontinyu,” jelas Hermawan merinci teknis penanganan darurat tersebut.

Baca Juga Aksi Senyap Spesialis Bedeng di Denpasar Berakhir: Kronologi Penangkapan Pencuri Ponsel Buruh Proyek yang Meresahkan
Aksi Senyap Spesialis Bedeng di Denpasar Berakhir: Kronologi Penangkapan Pencuri Ponsel Buruh Proyek yang Meresahkan

Harapan pada Solusi dari Pemerintah Kabupaten

Kondisi yang memprihatinkan ini juga diakui oleh Perbekel Desa Kampung Gelgel, Sahidin. Menurutnya, fenomena pembakaran sampah residu ini tidak hanya terjadi di desanya, tetapi juga menjadi pemandangan serupa di berbagai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TP3SR) milik desa-desa lain di wilayah Klungkung. Masalah ini menjadi isu kolektif yang menuntut perhatian serius dari pemangku kebijakan di tingkat atas.

“Kami di pemerintah desa mengakui memang ada kendala besar dalam tata kelola residu saat ini. Sejak TOSS Center di Karangdadi ditutup, kami kehilangan muara akhir untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang. Ini adalah masalah mendesak yang butuh penanganan segera dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung,” tutur Sahidin.

Sahidin sangat berharap agar dinas terkait segera menurunkan solusi konkret. Ia khawatir jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, ketegangan sosial bisa muncul akibat ketidaknyamanan lingkungan. Keberlanjutan operasi TOSS Berseri sangat bergantung pada kelancaran alur pembuangan residu yang kini tersumbat.

Masa Depan: Mesin Pirolisis Selandia Baru

Di tengah situasi yang serba sulit ini, secercah harapan mulai muncul dari arah Pemerintah Kabupaten Klungkung. Melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP), pemerintah dikabarkan tengah menjalin kemitraan strategis dengan pihak swasta internasional untuk merevitalisasi pengolahan sampah di TOSS Center Karangdadi.

Baca Juga Ketegangan di Balik Kemegahan Beijing: Xi Jinping Beri Peringatan Keras kepada Donald Trump Terkait Masa Depan Hubungan AS-Tiongkok
Ketegangan di Balik Kemegahan Beijing: Xi Jinping Beri Peringatan Keras kepada Donald Trump Terkait Masa Depan Hubungan AS-Tiongkok

Sebuah perusahaan asal Selandia Baru telah didatangkan untuk memasang teknologi mutakhir berupa mesin pirolisis. Mesin ini diklaim memiliki kapasitas yang sangat mumpuni, yakni mampu mengolah hingga 8 ton sampah per jam melalui proses termokimia tanpa oksigen. Teknologi ini diharapkan menjadi jawaban atas tumpukan residu yang selama ini menjadi momok bagi desa-desa di Klungkung.

Jika tidak ada aral melintang, mesin pirolisis tersebut dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada bulan ini. Dengan adanya teknologi tersebut, diharapkan residu dari desa-desa seperti Kampung Gelgel bisa kembali diserap dan diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, sekaligus menghentikan praktik pembakaran sampah secara konvensional yang merugikan lingkungan.

Masyarakat kini hanya bisa menanti, apakah mesin canggih ini benar-benar akan menjadi solusi permanen, ataukah Klungkung akan terus terjebak dalam kabut asap dan aroma residu yang tak kunjung usai.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *