Keteguhan Deki Degei: Kisah Siswa Disabilitas Nabire yang Memimpin Upacara Hardiknas dengan Satu Kaki
KabarHarian — Sinar matahari pagi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tak sekadar membawa hangat bagi para peserta upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) beberapa waktu lalu. Di tengah lapangan SMA Mepa Boarding School, suasana mendadak hening dan penuh haru saat seorang remaja berdiri tegak di barisan paling depan. Ia bukan sekadar peserta, melainkan sang pemimpin upacara yang mengomandoi jalannya seremoni dengan penuh wibawa.
Sosok itu adalah Deki Degei, siswa SMA Mepa Boarding School yang kini menjadi perbincangan hangat di seantero negeri. Bukan hanya karena keberaniannya mengambil tanggung jawab besar, melainkan karena kondisi fisiknya yang istimewa. Deki adalah seorang penyandang disabilitas yang hanya memiliki satu kaki, namun keteguhan mentalnya jauh melampaui keterbatasan fisik yang ia miliki.
Simbol Ketangguhan di Lapangan Upacara
Selama kurang lebih 40 menit, Deki berdiri stabil di atas satu kakinya. Tanpa alat bantu, tanpa keluhan, ia memandu jalannya upacara dengan suara yang lantang dan tegas. Momen ini terekam dan menjadi viral, memicu decak kagum dari masyarakat luas. Bagi banyak orang, pemandangan itu adalah representasi nyata dari semangat pendidikan yang inklusif dan tanpa batas.
Ketua Yayasan Mepa Boarding School, Jon Fallo, saat berbincang dengan tim redaksi menceritakan bahwa Deki memang memiliki daya juang yang luar biasa sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah tersebut. “Dia anak disabilitas, tapi dia sama sekali tidak pernah memposisikan dirinya sebagai orang yang butuh dikasihani atau selalu dibantu. Semangatnya sangat tinggi, bahkan seringkali melampaui siswa-siswa lainnya,” ungkap Jon dengan nada bangga.
Kemandirian Tanpa Batas di Asrama
Di balik seragam sekolahnya, Deki menjalani kehidupan yang jauh dari kata manja. Di lingkungan asrama SMA Mepa Boarding School, ia dikenal sebagai sosok yang sangat mandiri. Jon Fallo mengamati bahwa Deki melakukan semua rutinitas hariannya sendirian, mulai dari bangun pagi, mencuci pakaian, hingga tugas-tugas piket di asrama.
“Perannya sangat menonjol. Semua tugas yang diberikan kepada siswa di asrama maupun di sekolah, dia kerjakan dengan standar yang sama seperti siswa normal. Dia tidak pernah meminta pengecualian atau perlakuan khusus karena kondisinya,” tambah Jon. Hal ini membuktikan bahwa Deki telah berhasil melampaui batas mental yang seringkali menghambat kaum disabilitas untuk berkembang.
Si Pekerja Keras yang Tak Gentar dengan Pekerjaan Fisik
Salah satu cerita yang paling menyentuh adalah dedikasi Deki dalam menjaga kebersihan dan pembangunan di lingkungan sekolahnya. Meski bertumpu pada satu kaki, Deki tidak segan-segan terlibat dalam pekerjaan fisik yang berat. Jon menceritakan bagaimana ia tertegun melihat Deki mendorong gerobak berisi batu dan pasir.
“Saya sempat merasa prihatin melihatnya, tapi saat dia bilang ‘saya bisa’, kami pun memberikan kepercayaan penuh. Dia mendorong gerobak batu dengan satu kaki itu. Kekuatan otot dan keseimbangannya memang luar biasa, tapi yang lebih luar biasa adalah kekuatan niatnya,” tuturnya. Kepercayaan yang diberikan pihak sekolah ternyata menjadi bahan bakar bagi Deki untuk terus membuktikan kemampuannya.
Menaklukkan Lapangan Hijau dan Voli
Keterbatasan fisik nyatanya tidak mampu membelenggu kecintaan Deki terhadap dunia olahraga. Di saat waktu luang, ia seringkali terlihat bergabung dengan teman-temannya di lapangan bola. Bagi Deki, olahraga bukan hanya soal fisik, melainkan soal interaksi dan kegembiraan.
Jon Fallo menceritakan dengan antusias bagaimana Deki beraksi di lapangan. “Kalau main bola voli dengan satu kaki, mungkin orang masih bisa membayangkan. Tapi ini dia main sepak bola. Dia berlari, mengejar bola, dan berkompetisi dengan teman-temannya yang lain. Dia benar-benar tidak membiarkan kondisinya menghalangi ruang geraknya,” kata Jon. Hal ini membuatnya menjadi sosok yang sangat populer dan disayangi oleh rekan-rekan sejawatnya.
Tragedi Masa Kecil yang Mengubah Hidup
Kondisi yang dialami Deki bukanlah bawaan lahir. Ia lahir sebagai bayi yang normal dan sehat. Namun, takdir berkata lain saat usianya baru menginjak sekitar enam tahun. Sebuah kecelakaan tragis terjadi tepat sebelum ia memulai masa sekolah dasarnya.
“Waktu itu dia baru mau masuk SD. Dia tertabrak atau terlindas truk, kami tidak tahu pasti detailnya, tapi kejadian itu merenggut satu kakinya di usia yang sangat muda,” ungkap Jon. Kehilangan anggota tubuh di usia emas tentu menjadi pukulan berat, namun di sinilah titik balik karakter Deki mulai terbentuk. Ia dipaksa dewasa oleh keadaan dan harus belajar berjalan kembali dengan perspektif yang berbeda.
Melawan Stigma dan Perundungan
Perjalanan Deki menuju titik sekarang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Jon Fallo mengakui bahwa masa-masa awal Deki menjadi penyandang disabilitas adalah masa yang sangat kelam. Selain harus beradaptasi secara fisik, ia juga harus berhadapan dengan stigma negatif dan potensi perundungan (bullying) dari lingkungan sekitar.
“Bayangkan seorang anak kecil harus berjuang untuk eksis dengan satu kaki. Di saat yang sama, ada risiko dia dihina atau diremehkan orang lain. Itu adalah tekanan mental yang sangat berat. Namun, berkat dukungan keluarga yang luar biasa dan lingkungan sekolah yang suportif, Deki berhasil menemukan jati dirinya sebagai sosok yang layak dihargai dan dihormati,” jelas Jon.
Inspirasi Pendidikan Inklusif di Papua
Kisah Deki Degei di Nabire ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di tanah Papua. Pendidikan inklusif bukan hanya soal menyediakan fasilitas fisik bagi penyandang disabilitas, tetapi tentang bagaimana membangun mentalitas dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk berkarya.
Pihak SMA Mepa Boarding School berkomitmen untuk terus mengawal masa depan Deki. Jon Fallo meyakini bahwa dengan karakter pekerja keras dan inisiatif tinggi yang dimilikinya, Deki akan mampu mencapai kesuksesan di masa depan. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menjadikan kekurangan sebagai alasan, dan selalu tampil dengan wajah periang yang menularkan energi positif.
Harapan untuk Masa Depan
Saat upacara Hardiknas berakhir, Deki mungkin kembali ke rutinitasnya sebagai siswa biasa. Namun, jejak kakinya di lapangan upacara hari itu telah meninggalkan pesan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Ia mengajarkan bahwa kekurangan fisik hanyalah sebuah keadaan, namun menyerah adalah sebuah pilihan yang tidak pernah ia ambil.
“Saya yakin dia akan menjadi orang sukses nantinya. Asalkan kita semua terus mendukungnya dan memberikan ruang bagi anak-anak seperti Deki untuk membuktikan kapasitas mereka,” pungkas Jon Fallo. Deki Degei kini bukan hanya kebanggaan Nabire, tapi juga simbol harapan bagi setiap anak bangsa yang tengah berjuang melawan keterbatasan demi mengejar cita-cita di cakrawala pendidikan.