Akhir Riwayat Sang Predator: Buaya Penyerang Warga di Sungai Mandar Polman Ditemukan Mati Terpapar Racun

Hisan Halibin | KabarHarian
04 May 2026, 10:07 WIB
Akhir Riwayat Sang Predator: Buaya Penyerang Warga di Sungai Mandar Polman Ditemukan Mati Terpapar Racun

KabarHarian — Keheningan pagi di sepanjang bantaran Sungai Mandar, Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, mendadak pecah oleh sebuah penemuan yang menggegerkan masyarakat sekitar. Pada Senin pagi (4/5/2026), sesosok jasad predator air tawar yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, ditemukan mengapung tidak bernyawa. Buaya muara sepanjang 2,8 meter tersebut diduga kuat mati setelah memakan umpan beracun yang sengaja dipasang oleh warga yang sudah mencapai puncak keresahannya.

Penemuan bangkai reptil raksasa ini menjadi titik balik dari rangkaian horor yang menghantui masyarakat pesisir sungai selama beberapa bulan terakhir. Keberadaan predator ini bukan sekadar isu belaka; ia telah meninggalkan jejak darah yang mendalam, termasuk merenggut nyawa salah satu warga setempat. Kini, meskipun sang predator telah tumbang, duka dan kewaspadaan masih menyelimuti atmosfer Kelurahan Tinambung.

Kronologi Penemuan di Bibir Sungai Mandar

Peristiwa penemuan ini bermula sekira pukul 07.00 Wita. Saat itu, aktivitas warga di tepian sungai baru saja dimulai. Beberapa warga yang sehari-harinya menggantungkan hidup dengan mencari kerikil di bantaran sungai dikejutkan oleh benda besar berwarna kecoklatan yang mengapung tak jauh dari tepian. Awalnya, warga mengira itu hanyalah batang kayu besar yang hanyut terbawa arus sungai.

Baca Juga Kepastian PSEL Makassar: Menkeu Purbaya Batalkan Tender Ulang dan Instruksikan Pembangunan di Tamalanrea
Kepastian PSEL Makassar: Menkeu Purbaya Batalkan Tender Ulang dan Instruksikan Pembangunan di Tamalanrea

“Ukurannya cukup besar, sekitar dua koma delapan meter. Kami menemukannya sudah dalam posisi mengapung di tengah sungai sebelum akhirnya ditarik ke daratan,” ungkap Salman, salah satu warga setempat yang menjadi saksi mata sekaligus sosok yang terlibat dalam upaya pelumpuhan hewan tersebut. Penemuan ini segera menyebar luas, memancing kerumunan warga yang ingin melihat langsung sosok yang selama ini mereka takuti.

Proses evakuasi bangkai buaya tersebut berlangsung cukup dramatis. Warga bahu-membahu menarik jasad reptil seberat puluhan kilogram itu ke daratan menggunakan peralatan seadanya. Begitu sampai di tepian, terlihat jelas fisik sang predator: kulit berwarna kecoklatan dengan bercak hitam yang tidak beraturan, serta deretan punggung bergerigi yang menjadi ciri khas reptil purba ini.

Siasat Umpan Beracun: Pilihan Pahit di Tengah Ketakutan

Kematian buaya ini bukanlah sebuah kecelakaan alamiah. Salman secara terbuka mengakui bahwa dirinya dan beberapa warga lainnya telah menempuh jalan terakhir dengan memasang umpan beracun di titik-titik yang sering menjadi perlintasan sang buaya. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan karena rasa frustrasi atas ancaman keselamatan yang terus mengintai setiap kali warga beraktivitas di air.

Baca Juga Update Harga Kambing Kurban 2026 di Makassar: Pilihan Jenis dan Estimasi Biaya Terbaru
Update Harga Kambing Kurban 2026 di Makassar: Pilihan Jenis dan Estimasi Biaya Terbaru

“Saya sendiri yang memasang beberapa umpan yang sudah diberi racun. Total ada empat umpan yang saya sebar di pinggir sungai, dan ternyata satu di antaranya dimakan oleh buaya ini,” tutur Salman dengan nada yang mencerminkan beban berat yang dipikul warga. Keputusan menggunakan racun diambil setelah berbagai upaya lain dianggap kurang efektif, sementara korban terus berjatuhan.

Metode ini memang mengundang perdebatan dari sisi konservasi, namun bagi masyarakat Tinambung, ini adalah masalah bertahan hidup. Sungai Mandar adalah nadi kehidupan mereka—tempat mandi, mencuci, hingga mencari nafkah. Ketika predator mulai masuk ke wilayah aktivitas manusia dan menyerang tanpa pandang bulu, warga merasa harus mengambil tindakan nyata untuk melindungi nyawa keluarga mereka.

Tragedi Muhlis dan Rentetan Serangan Berdarah

Kekhawatiran warga mencapai puncaknya pada Kamis (24/4) silam. Seorang pria bernama Muhlis (50), atau yang akrab disapa Pute, menjadi korban keganasan buaya tersebut. Saat itu, Muhlis sedang melakukan aktivitas rutin mandi di sungai sekira pukul 19.00 Wita. Tanpa peringatan, predator tersebut menerkam dan menyeretnya ke dalam kegelapan air. Muhlis ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sebuah peristiwa yang meninggalkan trauma mendalam bagi seluruh desa.

Baca Juga Sinopsis Film 6 Days: Rekonstruksi Dramatis Pengepungan Kedutaan Iran di London 1980
Sinopsis Film 6 Days: Rekonstruksi Dramatis Pengepungan Kedutaan Iran di London 1980

Salman meyakini bahwa buaya yang ditemukan mati ini adalah individu yang sama dengan yang menyerang Muhlis. “Saya sangat yakin ini buayanya. Dari warnanya dan ciri-ciri fisiknya, saya tahu sekali ini adalah reptil yang menyerang Muhlis tempo hari,” tegasnya. Keyakinan warga didasarkan pada pengamatan intensif terhadap pola pergerakan buaya di area tersebut sejak serangan fatal itu terjadi.

Namun, Muhlis bukanlah satu-satunya korban. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, tercatat sudah ada empat warga yang menjadi sasaran serangan buaya di Sungai Mandar. Meskipun tiga lainnya berhasil selamat dengan luka-luka, eskalasi serangan ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan ekosistem atau gangguan habitat yang memaksa reptil-reptil ini keluar dari wilayah persembunyian mereka dan mendekati pemukiman.

Ancaman yang Belum Sepenuhnya Padam

Meski satu predator besar telah berhasil dilumpuhkan, Salman dan warga lainnya tidak lantas bisa bernapas lega sepenuhnya. Ada kecemasan baru yang muncul: sang predator yang mati ini diduga adalah induk betina. Dari pantauan warga, masih terlihat keberadaan buaya lain yang lebih kecil, diduga adalah anak dari buaya yang mati tersebut.

Baca Juga Panduan Lengkap Jadwal Takbiran Idul Adha 2026: Jenis, Waktu Pelaksanaan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Panduan Lengkap Jadwal Takbiran Idul Adha 2026: Jenis, Waktu Pelaksanaan, dan Bacaan Sesuai Sunnah

“Masih ada buaya lain di sini. Ini yang mati adalah buaya betina, dan kami sering melihat ada anaknya yang masih berkeliaran dengan ukuran sekitar satu meter,” tambah Salman. Keberadaan ‘penerus’ predator ini mengindikasikan bahwa Sungai Mandar kini telah menjadi habitat perkembangbiakan buaya, sebuah fakta yang menuntut perhatian lebih dari pihak berwenang dan ahli satwa liar.

Warga menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan pemantauan dan perburuan jika dirasa perlu. Keamanan kolektif menjadi prioritas utama. “Kami masih akan melanjutkan perburuan buaya lainnya karena kami tahu temannya masih ada di luar sana. Kami tidak ingin jatuh korban lagi,” pungkasnya dengan tegas.

Penghormatan Terakhir dan Harapan ke Depan

Menariknya, meskipun buaya tersebut dianggap sebagai musuh yang mematikan, warga Polman tetap menunjukkan sisi kemanusiaan mereka. Setelah menjadi tontonan massa dan didokumentasikan, bangkai buaya tersebut dikuburkan dengan cara yang layak oleh warga. Salman menyebut tindakan ini didasari rasa kasihan terhadap sesama makhluk hidup, meskipun hewan tersebut telah berbuat fatal.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Lembah Baliem: Perang Suku di Wamena Menelan Korban Jiwa dan Ratusan Pengungsi
Tragedi Berdarah di Lembah Baliem: Perang Suku di Wamena Menelan Korban Jiwa dan Ratusan Pengungsi

“Setelah semua ini, bangkainya saya kubur dengan baik. Bagaimanapun juga, kita kasihan melihatnya mati seperti itu, meski ia sudah meresahkan kita semua,” ujar Salman menutup pembicaraan. Tindakan penguburan ini juga bertujuan untuk mencegah polusi aroma busuk yang dapat mengganggu lingkungan di sekitar sungai.

Kasus di Sungai Mandar ini menjadi pengingat keras akan pentingnya manajemen konflik antara manusia dan satwa liar. Gangguan habitat diduga menjadi pemicu utama mengapa buaya-buaya ini mulai agresif masuk ke wilayah manusia. Kini, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dan instansi terkait seperti BKSDA untuk melakukan penyisiran atau relokasi terhadap buaya yang masih tersisa, agar fungsi sungai sebagai ruang publik kembali aman tanpa harus ada nyawa yang dikorbankan lagi, baik dari sisi manusia maupun satwa.

Sampai berita ini diturunkan, suasana di Kelurahan Tinambung relatif tenang namun waspada. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di sungai pada waktu-waktu rawan seperti senja dan malam hari, sembari menunggu langkah mitigasi lebih lanjut dari pihak berwenang guna menjamin keamanan jangka panjang di sepanjang aliran Sungai Mandar.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *