Menuju Porprov 2027: Buleleng Kebut Revitalisasi Fasilitas Panjat Tebing Berstandar Internasional
KabarHarian — Ambisi besar Kabupaten Buleleng untuk menasbihkan diri sebagai pusat prestasi olahraga di Pulau Dewata, khususnya pada cabang olahraga panjat tebing, kini memasuki babak baru yang krusial. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Perkim secara resmi mengumumkan percepatan proyek peningkatan fasilitas panjat tebing yang berlokasi di jantung kota Singaraja. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk pembenahan rutin, melainkan sebuah misi besar guna memastikan para atlet kebanggaan Buleleng memiliki ‘kawah candradimuka’ yang layak dan kompetitif di level global.
Setelah sempat mengalami dinamika teknis yang menyebabkan penundaan, otoritas terkait kini memasang target tinggi. Jika seluruh tahapan administratif berjalan sesuai rencana, pemenang tender proyek strategis ini dipastikan sudah dikantongi pada Juni 2026 mendatang. Kejelasan jadwal ini memberikan angin segar bagi para pegiat olahraga ekstrem di Buleleng yang telah lama menantikan pembaruan sarana latihan mereka.
Dinamika Tender: Penyesuaian Anggaran Demi Kualitas Realistis
Perjalanan proyek ini sejatinya tidak berjalan tanpa hambatan. Sebelumnya, proyek revitalisasi ini sempat mengalami kegagalan tender karena minimnya minat dari pihak rekanan atau kontraktor. Akar permasalahannya terletak pada pagu anggaran awal yang dipatok sebesar Rp 1 miliar. Angka tersebut dinilai tidak lagi relevan dengan dinamika harga material bangunan serta kompleksitas teknis yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas panjat tebing yang memenuhi standar keamanan dan prestasi.
Kepala Dinas PUTR dan Perkim Buleleng, Putu Adipta Eka Putra, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi mendalam terhadap kegagalan tender tersebut. Sebagai solusi konkret, pemerintah memutuskan untuk menaikkan pagu anggaran menjadi Rp 1,5 miliar yang bersumber sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Buleleng. Kenaikan sebesar 50 persen ini diharapkan mampu menarik minat rekanan berkualitas yang memiliki kompetensi di bidang konstruksi fasilitas olahraga khusus.
“Kami tidak ingin sekadar membangun. Kami ingin membangun fasilitas yang berkelanjutan dan benar-benar mendukung kebutuhan atlet. Oleh karena itu, penyesuaian Rencana Anggaran Biaya (RAB) menjadi sangat penting untuk mengakomodasi kenaikan harga material di pasar serta memastikan spesifikasi teknis di lapangan dapat terpenuhi secara optimal,” ujar Adipta saat dikonfirmasi oleh KabarHarian di ruang kerjanya.
Finalisasi DED dan Target Pengerjaan Fisik
Saat ini, tim teknis tengah fokus melakukan finalisasi pada Detail Engineering Design (DED). Dokumen ini menjadi peta jalan krusial agar tidak ada kesalahan fatal dalam pengerjaan struktur nantinya. Adipta menjelaskan bahwa proses tender direncanakan mulai dibuka pada minggu kedua Mei 2026. Dengan estimasi waktu evaluasi yang ketat, pengerjaan fisik diharapkan bisa dimulai segera setelah kontrak ditandatangani pada bulan Juni.
Durasi pengerjaan proyek ini ditargetkan memakan waktu selama lima bulan. Fokus utamanya mencakup dua aspek vital: rehabilitasi total dinding panjat (climbing wall) dan penambahan fasilitas penunjang atlet. Salah satu yang menjadi sorotan adalah penyediaan kamar mandi dan ruang ganti khusus atlet yang selama ini dinilai masih minim. Fasilitas pendukung seperti ini dianggap penting untuk menjaga privasi, kenyamanan, serta kebersihan para atlet sebelum dan sesudah berlatih.
“Yang terpenting sekarang adalah memastikan perencanaan yang kami susun benar-benar realistis. Setelah proses tender selesai, kami akan mengawal ketat setiap tahapan pekerjaan. Komunikasi intensif dengan rekanan akan kami lakukan untuk meminimalisir kendala teknis yang mungkin muncul di tengah jalan,” tambah Adipta dengan nada optimis.
Merespons Prestasi Dunia dari Bumi Panji Sakti
Urgensi peningkatan fasilitas ini memang tidak bisa ditawar lagi. Buleleng telah lama dikenal sebagai gudang atlet panjat tebing berbakat yang tidak hanya mengharumkan nama daerah di kancah nasional, tetapi juga telah memecahkan rekor dunia di panggung internasional, termasuk prestasi gemilang di kejuaraan dunia di China. Sangat ironis jika atlet dengan prestasi kaliber dunia harus berlatih di fasilitas yang mulai usang atau tidak standar.
Ketua KONI Buleleng, Gede Supriatna, menyambut langkah agresif pemerintah daerah ini dengan penuh antusiasme. Menurutnya, infrastruktur adalah fondasi utama dalam pembinaan prestasi. Tanpa fasilitas yang memadai, potensi besar yang dimiliki putra-putri daerah akan sulit berkembang secara maksimal untuk menghadapi persaingan yang semakin kompetitif.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemkab Buleleng terhadap cabang olahraga panjat tebing. Fasilitas yang mumpuni akan memberikan efek psikologis positif bagi para atlet. Mereka akan merasa didukung penuh oleh daerah, yang pada gilirannya akan memacu semangat mereka untuk memberikan performa terbaik di setiap kompetisi,” tutur Supriatna.
Misi Besar Menjadi Tuan Rumah Tunggal Porprov Bali 2027
Langkah renovasi besar-besaran ini juga merupakan bagian dari persiapan strategis Buleleng yang akan mengemban tugas berat sekaligus membanggakan sebagai tuan rumah tunggal Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2027. Sebagai tuan rumah, Buleleng memiliki tanggung jawab moral untuk menyajikan venue yang tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga membanggakan di mata delegasi dari kabupaten dan kota lain di seluruh Bali.
KONI Buleleng pun tidak berpangku tangan hanya mengandalkan APBD. Supriatna menyebutkan bahwa pihaknya terus aktif menjalin komunikasi dan mengajukan permohonan bantuan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat menciptakan pusat pelatihan panjat tebing yang paripurna di Buleleng.
Transformasi Menyeluruh Infrastruktur Olahraga Buleleng
Selain fokus pada panjat tebing, KabarHarian juga mencatat bahwa Pemkab Buleleng tengah merancang transformasi infrastruktur olahraga secara menyeluruh. Selain dinding panjat, Gedung Mr. I Gusti Ketut Pudja juga masuk dalam daftar renovasi. Gedung bersejarah tersebut nantinya akan difungsikan sebagai venue utama untuk cabang olahraga biliar, memberikan ruang yang lebih representatif bagi para atlet bola sodok tersebut.
Rencana pengembangan fasilitas olahraga lainnya akan terus digulirkan secara bertahap melalui skema perubahan anggaran maupun program induk pada tahun 2027. Visi besarnya adalah menjadikan Buleleng sebagai destinasi sport tourism di Bali Utara. Dengan venue yang memenuhi standar internasional, Buleleng berpeluang besar untuk menarik event-event olahraga nasional maupun internasional di masa depan.
“Harapan kami sederhana namun mendalam: semua venue yang ada di Buleleng memenuhi standar keamanan dan kenyamanan. Dengan begitu, para atlet bisa bertanding dengan fokus penuh tanpa harus khawatir dengan kendala fasilitas. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan olahraga kita,” tutup Adipta dalam wawancara eksklusif tersebut.