Skandal Pelarian Sertu MB: Oknum TNI Kendari Jadi Buron Usai Dugaan Kasus Asusila Terhadap Siswi SD
KabarHarian — Sebuah peristiwa memilukan yang melibatkan oknum aparat keamanan kembali mencuat dan menjadi sorotan tajam publik di Sulawesi Tenggara. Markas Kodim 1417/Kendari kini tengah berpacu dengan waktu untuk memburu salah satu anggotanya sendiri, Sertu MB, yang secara mengejutkan melarikan diri dari pengawasan saat tengah menjalani pemeriksaan intensif terkait kasus dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur.
Sertu MB, yang sebelumnya telah diamankan oleh satuannya, kini resmi menyandang status sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Pelariannya menciptakan gelombang kekecewaan, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi institusi TNI yang kini harus bekerja ekstra keras untuk memulihkan citra dan menegakkan keadilan di mata masyarakat.
Kronologi Pelarian yang Mencoreng Institusi
Insiden pelarian Sertu MB terjadi di tengah proses interogasi yang dilakukan oleh pihak Kodim 1417/Kendari. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi KabarHarian, oknum tersebut melarikan diri pada hari Rabu, 15 April, tepat sebelum dirinya dijadwalkan untuk dilimpahkan ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) XIV/3 Kendari demi proses hukum lebih lanjut.
Komandan Denpom XIV/3 Kendari, Letkol CPM Haryadi Budaya Pela, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini tersangka belum sempat berada di bawah pengawasan satuannya. Ia menyebutkan bahwa saat proses pendalaman di level Kodim, Sertu MB memanfaatkan celah untuk menghilang dari radar petugas.
“Pelaku memang belum sempat diserahkan secara resmi kepada kami di Denpom. Saat proses interogasi awal di Kodim, yang bersangkutan mengambil kesempatan untuk kabur,” ungkap Letkol CPM Haryadi dalam keterangannya kepada awak media. Hilangnya tersangka ini menjadi pukulan telak bagi proses penyelidikan yang seharusnya berjalan mulus menuju tahap penuntutan.
Langkah Tegas Kodim Kendari dalam Perburuan
Menanggapi situasi yang memanas ini, Komandan Kodim 1417/Kendari, Letkol Arm Danny A.P. Girsang, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Sebuah operasi pencarian skala besar telah diinstruksikan kepada seluruh jajaran personel di lapangan untuk melacak keberadaan Sertu MB hingga ke pelosok daerah yang dicurigai sebagai tempat persembunyian.
“Kami telah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Surat DPO telah resmi diterbitkan dan disebarluaskan. Tidak ada ruang bagi oknum yang melanggar hukum untuk bersembunyi dari tanggung jawabnya,” tegas Letkol Danny pada Jumat (1/5/2026). Ia juga menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pihak kepolisian dan intelijen, telah diperketat guna mempersempit ruang gerak sang buron.
Pencarian kini difokuskan pada titik-titik krusial di wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Pihak militer juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat sosok yang mencurigakan atau memiliki informasi valid terkait keberadaan Sertu MB.
Keluarga Korban: Antara Harapan dan Kekecewaan
Di balik hiruk-pikuk pengejaran ini, terdapat luka yang mendalam di hati keluarga korban. Korban, seorang bocah perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), harus menanggung trauma psikis akibat tindakan biadab yang diduga dilakukan oleh Sertu MB di kediamannya di Kecamatan Ranomeeto, Konawe Selatan.
VN, tante dari korban, mengungkapkan betapa terpukulnya pihak keluarga mendengar kabar pelarian pelaku. Padahal, sebelumnya mereka sempat merasakan sedikit ketenangan saat mengetahui bahwa Sertu MB telah diamankan oleh pihak berwenang.
“Keluarga awalnya merasa lega karena merasa keadilan mulai tegak saat dia (pelaku) ditangkap. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Begitu mendengar kabar dia kabur, kami kembali merasa was-was dan sangat kecewa. Kami hanya ingin keadilan bagi keponakan kami yang masih sangat kecil,” tutur VN dengan nada getir.
Pemeriksaan Istri Pelaku dan Pendekatan Intelijen
Sebagai bagian dari upaya percepatan penangkapan, tim Intelijen Korem kini telah melakukan pemeriksaan terhadap istri Sertu MB. Langkah ini diambil untuk menggali informasi sekecil apa pun mengenai rencana atau lokasi pelarian sang suami. Pihak militer berupaya membujuk keluarga pelaku agar kooperatif dan membantu proses penegakan hukum.
“Kami sudah meminta keterangan dari istri pelaku melalui unit intelijen. Kami terus membangun komunikasi yang persuasif agar pihak keluarga bisa membantu kami menemukan keberadaan pelaku secepat mungkin,” jelas Letkol Danny Girsang.
Selain melakukan upaya represif pencarian, Dandim Kendari juga secara pribadi telah menemui keluarga korban untuk menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kejadian memilukan ini serta insiden pelarian tersangka. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa kepercayaan publik terhadap institusi TNI tidak luntur sepenuhnya.
Komitmen Transparansi dan Hukum Tanpa Pandang Bulu
Menghadapi tekanan publik, Letkol Danny Girsang menjamin bahwa proses hukum akan berjalan secara transparan dan terbuka. Ia memastikan tidak akan ada upaya untuk melindungi oknum yang mencoreng nama baik korps. Baginya, kejahatan terhadap anak adalah pelanggaran berat yang harus diganjar dengan hukuman setimpal sesuai aturan yang berlaku di militer maupun undang-undang perlindungan anak.
“Kami tidak akan menutupi apa pun. Semua proses hukum akan kami sampaikan secara jelas kepada publik. Siapa pun yang bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan pengadilan militer,” tambahnya lagi.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh jajaran TNI akan pentingnya pengawasan internal terhadap prajurit. Publik kini menanti langkah nyata dari Kodim 1417/Kendari dan Denpom XIV/3 Kendari dalam menyeret Sertu MB kembali ke balik jeruji besi guna mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah merusak masa depan seorang anak bangsa.
KabarHarian akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga pelaku berhasil diringkus dan proses persidangan memberikan keadilan yang hakiki bagi korban dan keluarganya.