Kreativitas Tanpa Batas: Siswa SMKN 1 Klungkung Sulap Kulit Salak Jadi Mahakarya Ogoh-Ogoh Mini di Festival Semarapura

Andre Pratama | KabarHarian
01 May 2026, 00:07 WIB
Kreativitas Tanpa Batas: Siswa SMKN 1 Klungkung Sulap Kulit Salak Jadi Mahakarya Ogoh-Ogoh Mini di Festival Semarapura

KabarHarian — Di tengah riuh rendah kemeriahan Festival Semarapura 8 yang memadati jantung Kabupaten Klungkung, sebuah pemandangan tak biasa berhasil mencuri perhatian ribuan pasang mata. Di antara deretan karya seni yang memukau, terselip sebuah mahakarya ogoh-ogoh mini yang tidak hanya menonjol karena estetikanya, tetapi juga karena keberanian sang kreator dalam mengeksplorasi material alam yang tak terduga. I Komang Agus Sudiarsa, seorang remaja berusia 15 tahun asal Desa Kamasan, membuktikan bahwa keterbatasan bahan bukanlah penghalang bagi lahirnya sebuah inovasi seni yang brilian.

Siswa kelas X jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMKN 1 Klungkung ini memamerkan sosok figuratif bertajuk ‘Bhagawan Samirana’. Namun, ada satu detail yang membuat para juri dan pengunjung tertegun: tekstur kulit pada ornamen ogoh-ogoh tersebut bukanlah berasal dari pahatan kayu atau cetakan semen, melainkan susunan rapi dari kulit buah salak yang dikeringkan. Penggunaan material organik ini memberikan kesan eksotis, purba, sekaligus sangat detail, menyerupai sisik makhluk mitologi yang hidup dalam legenda Bali.

Baca Juga Update Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 15 Mei 2026: Persiapan Ibadah Jumat di Pulau Dewata
Update Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 15 Mei 2026: Persiapan Ibadah Jumat di Pulau Dewata

Inspirasi Tak Terduga di Balik Kulit Buah Salak

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana ide unik ini bisa muncul di kepala seorang remaja belasan tahun? Ternyata, inspirasi tersebut datang dari sebuah momen keseharian yang sangat sederhana. Agus menceritakan bahwa saat ia sedang sibuk merangkai bagian akhir atau yang biasa disebut payasan (hiasan) ogoh-ogohnya, ia sedang menikmati buah salak. Saat hendak membuang kulitnya ke tempat sampah, ia tertegun melihat tekstur kulit salak yang kasar namun memiliki pola geometris yang cantik.

“Saya lihat teksturnya cukup unik dan sangat jarang digunakan dalam karya seni ogoh-ogoh. Waktu itu saya sedang makan salak, dan saat melihat kulitnya, terlintas pikiran untuk mencobanya sebagai hiasan. Setelah saya tempelkan dan atur komposisinya, ternyata hasilnya jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan,” ujar Agus saat ditemui oleh tim KabarHarian di lokasi pameran, Kamis (30/4/2024).

Keberanian Agus mengeksekusi ide spontan ini menjadi bukti bahwa mata seorang seniman mampu melihat potensi keindahan dalam benda-benda yang dianggap remeh oleh orang lain. Kulit salak yang biasanya hanya berakhir di tempat pembuangan sampah, kini bertransformasi menjadi elemen estetika yang memperkuat karakter ‘Bhagawan Samirana’ buatannya.

Baca Juga Optimalkan Layanan Adminduk, Ribuan Warga Denpasar Masih Belum Melakukan Perekaman e-KTP
Optimalkan Layanan Adminduk, Ribuan Warga Denpasar Masih Belum Melakukan Perekaman e-KTP

Filosofi Bhagawan Samirana: Sang Pengawas Angin

Bukan sekadar mengejar tampilan visual, karya Agus ini juga sarat akan makna mendalam. Nama ‘Bhagawan Samirana’ dipilih bukan tanpa alasan. Melalui riset mandiri yang dilakukannya di berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok, Agus mendalami sosok dewa yang memiliki kaitan erat dengan elemen angin atau udara.

Dalam mitologi yang ia pelajari, Bhagawan Samirana digambarkan sebagai sosok agung yang senantiasa mengawasi segala gerak-gerik manusia di muka bumi. Tak ada satu pun perbuatan, baik itu kebajikan maupun keburukan, yang luput dari pantauannya. Filosofi ini dirasa sangat relevan dengan kehidupan masa kini, di mana setiap individu diingatkan untuk selalu menjaga etika dan perbuatan karena ada ‘kekuatan alam’ yang selalu mengawasi.

“Saya ingin karya ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bhagawan Samirana adalah simbol pengawasan semesta. Dengan mengusung tema ini, saya berharap penonton tidak hanya melihat bentuk fisiknya, tapi juga merenungkan pesan moral di baliknya,” tambah Agus dengan nada yang dewasa melampaui usianya.

Baca Juga Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini Senin 4 Mei 2026: Lengkap dengan Panduan Niat dan Keutamaannya
Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini Senin 4 Mei 2026: Lengkap dengan Panduan Niat dan Keutamaannya

Seni di Tengah Keterbatasan: Mengolah Limbah Jadi Prestasi

Salah satu poin yang paling mengesankan dari karya Agus adalah efisiensi biaya dan semangat keberlanjutannya. Di saat banyak peserta menghabiskan jutaan rupiah untuk membuat ogoh-ogoh mini dengan bahan-bahan premium, Agus justru memilih jalur ‘hijau’. Ia memanfaatkan barang-barang bekas pakai yang ada di sekitar rumahnya.

Potongan bambu sisa digunakan sebagai kerangka utama. Koran-koran bekas dan kertas yang sudah tak terpakai dilumatkan untuk membentuk anatomi tubuh sang dewa. Kardus dan plastik bekas juga tak luput dari tangannya yang terampil untuk dijadikan aksesoris tambahan. Agus hanya mengeluarkan kocek sekitar Rp 250 ribu—biaya yang tergolong sangat minim untuk karya sekelas ini—yang sebagian besar dialokasikan untuk membeli tanah liat sebagai detail wajah dan lem perekat berkualitas tinggi.

Menariknya lagi, Agus tidak menggunakan kawat besi untuk struktur tubuhnya, melainkan memanfaatkan kayu dan bambu bekas yang dirakit sedemikian rupa. Pengerjaan ini memakan waktu selama 1,5 bulan, sebuah periode di mana Agus harus menunjukkan dedikasi yang luar biasa.

Baca Juga Kejutan Piala Asia U-17 2026: Indonesia Tumbangkan China, Gajah Perang Thailand Terkapar di Laga Pembuka
Kejutan Piala Asia U-17 2026: Indonesia Tumbangkan China, Gajah Perang Thailand Terkapar di Laga Pembuka

Dedikasi Sang Pelajar: Puasa Media Sosial Demi Karya

Proses kreatif selama 1,5 bulan ini menuntut pengorbanan waktu yang tidak sedikit bagi seorang remaja. Di usia di mana teman-temannya mungkin lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game online atau sekadar nongkrong, Agus memilih untuk mengurung diri di studionya setiap pulang sekolah.

“Pulang sekolah sudah sore, tapi saya langsung fokus mengerjakan ogoh-ogoh ini. Saya benar-benar mengurangi waktu bermain media sosial. Kalau biasanya scroll TikTok atau Instagram berjam-jam, selama pengerjaan ini saya hentikan total agar konsentrasi tidak terpecah,” akunya jujur. Baginya, kepuasan saat melihat detail demi detail ogoh-ogohnya terbentuk jauh lebih berharga daripada hiburan di dunia maya.

Meskipun ini adalah kali pertama Agus mengikuti lomba tingkat provinsi, ia tidak merasa terbebani dengan target juara. Baginya, bisa memamerkan hasil kerja kerasnya di hadapan publik dan mendapatkan apresiasi atas penggunaan kulit salaknya sudah merupakan kemenangan tersendiri.

Festival Semarapura sebagai Wadah Regenerasi Seniman

I Wayan Artana, selaku Ketua Panitia pameran dan lomba ogoh-ogoh mini Festival Semarapura 2024, memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para peserta tahun ini. Tercatat ada 118 peserta yang datang dari berbagai kabupaten di seluruh penjuru Bali, mulai dari kategori pelajar hingga umum.

Baca Juga Badai Absensi Hantam Serdadu Tridatu: Ricky Fajrin Dipastikan Absen Lawan Madura United
Badai Absensi Hantam Serdadu Tridatu: Ricky Fajrin Dipastikan Absen Lawan Madura United

“Kami sangat bangga melihat antusiasme generasi muda seperti Agus. Festival ini memang dirancang sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat berkarya dan melestarikan budaya Bali sejak dini. Munculnya ide-ide segar seperti penggunaan kulit salak membuktikan bahwa seni ogoh-ogoh terus berkembang dan adaptif terhadap zaman,” tutur Artana.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi seniman-seniman muda lainnya untuk berani bereksperimen dengan material ramah lingkungan. Di tengah isu sampah yang menjadi perhatian global, langkah Agus Sudiarsa menjadi oase bahwa seni bisa berjalan beriringan dengan semangat konservasi alam. Kini, karya ‘Bhagawan Samirana’ miliknya berdiri tegak, menjadi bukti nyata bahwa di tangan yang tepat, kulit buah yang kasar bisa berubah menjadi permata seni yang mempesona.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *