Tragedi Berdarah di Yahukimo: OPM Hanguskan SMPN Koasrama Usai Bantai 10 Pendulang Emas di Korowai
KabarHarian — Awan duka kembali menyelimuti tanah Papua Pegunungan setelah rentetan aksi kekerasan yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengguncang Kabupaten Yahukimo. Dalam sebuah serangan terorganisir yang brutal, kelompok bersenjata tersebut tidak hanya merenggut nyawa warga sipil, tetapi juga menghancurkan fasilitas pendidikan yang menjadi tumpuan masa depan anak-anak di wilayah tersebut. SMP Negeri Koasrama yang terletak di Distrik Dekai kini hanya menyisakan puing-puing hangus setelah dibakar oleh kelompok tersebut pada Rabu malam, 20 Mei 2026.
Insiden pembakaran gedung sekolah ini bukanlah aksi tunggal yang berdiri sendiri. Peristiwa pilu ini terjadi hanya beberapa saat setelah kelompok yang sama melakukan pembantaian sadis terhadap 10 orang pendulang emas di wilayah terpencil Korowai. Kekejaman ini menambah panjang daftar catatan hitam kekerasan di Papua, memicu ketakutan mendalam di kalangan masyarakat sipil dan memberikan tantangan besar bagi aparat keamanan yang bertugas di wilayah hukum Papua Pegunungan.
Jejak Kelam di Distrik Dekai: Api yang Melahap Harapan
Malam yang seharusnya tenang di Distrik Dekai berubah menjadi mencekam ketika kobaran api mulai menjilati bangunan SMP Negeri Koasrama sekitar pukul 22.00 WIT. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi KabarHarian, fasilitas pendidikan tersebut sengaja dibakar oleh anggota OPM di bawah komando Mayor Kopitua Heluka, yang merupakan bagian dari OPM Kodap XVI Yahukimo. Dalam hitungan jam, ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi dengan tawa dan semangat belajar para siswa, berubah menjadi abu.
Kepala Seksi Penerangan Koops TNI Habema, Kapten Sus Dewa Puspanegara, mengonfirmasi kejadian memilukan ini. Beliau menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari serangkaian aksi teror yang dilakukan kelompok separatis tersebut. Saat ini, pihak keamanan tengah melakukan pendalaman intensif untuk mengejar para pelaku yang melarikan diri ke dalam hutan setelah melancarkan aksinya. Pembakaran sekolah ini dipandang sebagai upaya sistematis untuk melumpuhkan layanan publik dan mengintimidasi warga lokal agar tidak mendukung program pemerintah.
Tragedi Korowai: Pembantaian Tanpa Belas Kasihan
Sebelum melakukan pembakaran di Dekai, kelompok yang dipimpin oleh Dejang Heluka bersama Kopitua Heluka terlebih dahulu menyatroni wilayah Korowai. Di sana, mereka melancarkan serangan mendadak terhadap para pendulang emas yang tengah mencari nafkah. Sebanyak 10 orang warga sipil dilaporkan tewas dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Para korban disergap secara tiba-tiba dan dibacok bertubi-tubi menggunakan senjata tajam jenis parang, meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kondisi geografis Korowai yang sangat sulit dijangkau memperlambat proses evakuasi dan pendataan korban. Kapten Sus Dewa menjelaskan bahwa metode penyergapan yang digunakan kelompok tersebut sangat taktis, memanfaatkan kelengahan warga sipil yang sama sekali tidak bersenjata. Aksi ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak lagi memilah target, di mana masyarakat ekonomi lemah yang sekadar mencari sesuap nasi di tambang rakyat pun menjadi sasaran empuk kebrutalan mereka.
Identifikasi Korban: Kehilangan yang Menembus Batas Wilayah
Hingga saat ini, upaya identifikasi terhadap para korban terus dilakukan oleh pihak berwenang. Dari 10 nyawa yang melayang, lima di antaranya telah berhasil diidentifikasi melalui kartu tanda penduduk (KTP). Ironisnya, para korban berasal dari berbagai daerah di luar Yahukimo, menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat bagi banyak pendatang untuk mengadu nasib.
Empat dari korban yang teridentifikasi merupakan warga asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yaitu Alfrey Bagimu, Jans Garias Sasela, Jimmy Deivi Mawali, dan Yulianus Wamoi. Kepergian mereka membawa duka yang sangat mendalam bagi keluarga di tanah kelahiran mereka di Sulawesi Utara. Sementara itu, satu korban lainnya diidentifikasi bernama Biu Ne Palia, yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Sementara itu, lima jenazah lainnya masih dalam proses pendataan oleh tim medis dan aparat kepolisian setempat.
Pernyataan OPM: Menolak Modernisasi dan Pembangunan
Di sisi lain, pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, secara terang-terangan mengakui keterlibatan mereka dalam aksi pembakaran dan pembunuhan tersebut. Dalam keterangan resminya, Sebby mengklaim bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari operasi militer mereka untuk menentang kehadiran pemerintah Indonesia di tanah Papua. Mereka dengan tegas menyatakan penolakan terhadap segala bentuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum.
“Kami menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto dan seluruh jajarannya bahwa kami menolak pembangunan infrastruktur berupa sekolah, jalan, jembatan, dan gedung-gedung pemerintah,” ujar Sebby dalam pernyataannya. Bagi kelompok ini, pembangunan yang dilakukan pemerintah dipandang sebagai alat untuk mengontrol wilayah mereka, sehingga mereka memilih jalan kekerasan dengan menghancurkan fasilitas yang seharusnya bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat asli Papua sendiri.
Tantangan Keamanan dan Dampak Terhadap Pendidikan
Insiden di Yahukimo ini memicu gelombang kekhawatiran mengenai masa depan pendidikan di daerah konflik. Dengan dibakarnya SMP Negeri Koasrama, ratusan siswa kini kehilangan tempat belajar. Kerusakan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis, di mana anak-anak dan guru kini dihantui rasa takut untuk kembali ke sekolah. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah darurat agar proses belajar mengajar tidak terhenti total.
Sementara itu, aparat gabungan TNI dan Polri terus meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah Yahukimo dan sekitarnya. Patroli diintensifkan guna mencegah adanya serangan susulan terhadap objek vital dan pemukiman warga. Namun, tantangan medan yang berat serta luasnya wilayah hutan di Papua Pegunungan menjadi kendala utama dalam melacak pergerakan gerilya kelompok OPM tersebut. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan segala aktivitas mencurigakan kepada pihak berwajib demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
KabarHarian akan terus memantau perkembangan situasi di Yahukimo dan memberikan informasi terbaru mengenai proses hukum serta upaya pemulihan pasca-tragedi ini. Kehilangan nyawa warga sipil dan perusakan fasilitas pendidikan merupakan luka besar bagi bangsa yang harus segera dicarikan solusi permanen demi perdamaian di Bumi Cendrawasih.