Tragedi dan Teka-teki: Perahu Bermuatan Sianida Terdampar di Sitaro Setelah Seorang ABK Tewas Misterius

Hisan Halibin | KabarHarian
19 May 2026, 18:08 WIB
Tragedi dan Teka-teki: Perahu Bermuatan Sianida Terdampar di Sitaro Setelah Seorang ABK Tewas Misterius

KabarHarian — Keheningan fajar di pesisir Kepulauan Sitaro terusik oleh sebuah peristiwa mencekam yang menyelimuti perairan Sulawesi Utara. Sebuah perahu bermesin tempel yang seharusnya bersandar dengan normal, justru terdampar di perairan dangkal Kampung Balirangen dengan membawa kargo mematikan dan satu nyawa yang telah tiada. Peristiwa ini memicu tanda tanya besar mengenai aktivitas transportasi bahan kimia berbahaya di wilayah tersebut.

Kejadian yang berlangsung pada Selasa dini hari, 19 Mei 2026 tersebut, menghebohkan warga setempat. Bukan hanya karena adanya awak kapal yang meninggal dunia, namun juga karena muatan misterius yang tersimpan rapi di balik karung-karung bekas makanan hewan. Kepolisian Resor Kepulauan Sitaro kini tengah bekerja ekstra keras untuk mengurai benang kusut di balik pelayaran maut ini.

Kronologi Keberangkatan dari Tahuna

Berdasarkan penelusuran mendalam tim KabarHarian, pelayaran ini bermula dari Pelabuhan Tahuna menuju Manado pada Senin pagi, 18 Mei 2026, sekitar pukul 09.00 WITA. Perjalanan yang menempuh jarak cukup jauh di laut terbuka itu menggunakan dua perahu mesin tempel yang beroperasi secara beriringan. Di dalam rombongan tersebut, terdapat korban berinisial JKD (64) bersama dua saksi kunci lainnya, yakni Repki Lukas (40) dan Marthen Howan (50).

Baca Juga Arogansi Parkir di Makassar Berakhir Lesu: Jukir Herman Tertunduk Minta Maaf Usai Patok Tarif ‘Getok’ Rp 20 Ribu
Arogansi Parkir di Makassar Berakhir Lesu: Jukir Herman Tertunduk Minta Maaf Usai Patok Tarif ‘Getok’ Rp 20 Ribu

Awalnya, pelayaran tampak berjalan seperti biasa. Namun, tak lama setelah meninggalkan pelabuhan, kondisi kesehatan JKD mulai menurun. Pria berusia lanjut itu mengeluhkan rasa mual yang hebat di tengah guncangan ombak. Mengingat usianya yang sudah kepala enam, rekan-rekannya menyarankan JKD untuk beristirahat di bagian dalam perahu agar kondisinya tidak semakin memburuk akibat angin laut yang kencang.

Detik-Detik Mencekam di Tengah Laut

Kapolres Kepulauan Sitaro, AKBP Iwan Permadi, menjelaskan bahwa sekitar pukul 10.00 WITA, rombongan tersebut memutuskan untuk berhenti sejenak di tengah laut guna menyantap bekal makan siang. Di sinilah suasana berubah menjadi penuh kepanikan. Ketika saksi mencoba membangunkan JKD untuk makan, pria tersebut sama sekali tidak merespons.

“Saat korban dibangunkan, tubuhnya sudah tidak bergerak. Setelah dilakukan pengecekan pada denyut nadinya, dipastikan bahwa korban telah meninggal dunia,” ujar AKBP Iwan Permadi dalam pernyataan resminya. Kematian mendadak JKD di tengah laut menciptakan kepanikan bagi para awak kapal lainnya, mengingat mereka berada jauh dari daratan dan membawa muatan yang sensitif.

Baca Juga Renungan Harian Katolik 29 April 2026: Menemukan Terang Kristus di Tengah Kegelapan Dunia
Renungan Harian Katolik 29 April 2026: Menemukan Terang Kristus di Tengah Kegelapan Dunia

Dalam situasi kalut tersebut, para saksi segera menghubungi seseorang bernama Jullivan Jacques Kondoahi alias Ivan, yang disebut-sebut sebagai atasan atau pemilik muatan tersebut. Alih-alih mengarahkan ke pelabuhan besar terdekat, Ivan justru menginstruksikan para awaknya untuk membawa perahu menuju pesisir Kampung Balirangen di Pulau Siau.

Misteri Pelarian ABK dan Kargo Sianida

Namun, drama di tengah laut belum berakhir. Menurut laporan yang dihimpun KabarHarian, muncul sosok lain bernama Yus yang sebelumnya menyusul menggunakan perahu kecil untuk mengantarkan makanan. Alih-alih membantu evakuasi jenazah, Yus justru memilih untuk melarikan diri menggunakan perahu kecilnya. Yang mencurigakan, perahu yang digunakan Yus untuk melarikan diri juga dilaporkan mengangkut sejumlah karung berisi sianida.

Pelarian Yus ini menambah daftar kecurigaan polisi mengenai legalitas pengiriman bahan kimia tersebut. Sementara itu, perahu utama yang membawa jenazah JKD sempat mengalami kendala teknis karena terjebak di perairan dangkal saat air laut surut. Baru pada pukul 03.30 WITA, saat air pasang mulai naik, perahu tersebut akhirnya bisa bersandar di pesisir pantai Kampung Balirangen.

Baca Juga Skandal Retribusi Ramadan Fair Parepare: Kejari Endus Penyelewengan Dana Sewa Tenda Belasan Juta Rupiah
Skandal Retribusi Ramadan Fair Parepare: Kejari Endus Penyelewengan Dana Sewa Tenda Belasan Juta Rupiah

Temuan Muatan Berbahaya: Sianida Berkedok Pakan Ayam

Setibanya polisi di lokasi kejadian, pemeriksaan langsung dilakukan terhadap isi perahu. Hasilnya sangat mengejutkan. Di bawah tumpukan barang-barang pribadi, ditemukan puluhan karung putih yang secara kasat mata terlihat seperti kemasan makanan ayam asal Filipina. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, isi di dalamnya bukanlah pakan ternak, melainkan senyawa kimia sianida yang sangat beracun.

“Kami menemukan sejumlah karung putih bekas makanan ayam Filipina yang ternyata berisi sianida. Jumlah pastinya masih dalam proses penghitungan karena posisi karung yang masih menumpuk, namun estimasi sementara ada sekitar 50 karung dengan berat masing-masing 50 kilogram per karung,” ungkap AKBP Iwan Permadi. Jika totalitas ini akurat, maka terdapat sekitar 2,5 ton sianida yang diangkut secara ilegal lewat jalur laut tersebut.

Investigasi Polisi dan Kondisi Jenazah

Terkait kematian JKD, keluarga korban telah menjemput jenazah sekitar pukul 04.30 WITA untuk dibawa ke rumah duka di kawasan Bogar-Kansil. Pihak keluarga menyatakan telah ikhlas dan menolak untuk dilakukan prosedur autopsi, menganggap peristiwa ini sebagai musibah murni. Meski demikian, kepolisian tetap mendalami apakah ada kaitan antara muatan sianida di kapal dengan penyebab kematian korban, mengingat paparan bahan kimia tersebut sangat berbahaya bagi manusia.

Baca Juga Sinopsis Film Reprisal: Aksi Balas Dendam Frank Grillo dan Bruce Willis Menumpas Perampok Sadis
Sinopsis Film Reprisal: Aksi Balas Dendam Frank Grillo dan Bruce Willis Menumpas Perampok Sadis

Fokus penyelidikan kini mengarah pada Jullivan Jacques Kondoahi alias Ivan sebagai pemilik muatan dan keberadaan Yus yang masih buron. Polisi menduga ada jaringan distribusi bahan kimia ilegal yang memanfaatkan jalur-jalur laut di Kepulauan Sitaro untuk menyuplai tambang-tambang emas rakyat yang tidak memiliki izin resmi.

Risiko Besar Sianida di Perairan Sulawesi

Penggunaan sianida dalam aktivitas pertambangan ilegal memang menjadi isu sensitif di Sulawesi Utara. Sianida merupakan bahan kimia tingkat tinggi yang penggunaannya diawasi ketat oleh negara karena sifatnya yang sangat toksik. Kebocoran sedikit saja di perairan dapat menghancurkan ekosistem laut dan mengancam kesehatan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada hasil ikan.

KabarHarian mencatat bahwa pengangkutan sianida menggunakan perahu tradisional tanpa pengamanan standar merupakan pelanggaran berat terhadap hukum maritim dan lingkungan hidup. Risiko kecelakaan laut yang tinggi di perairan Sitaro bisa berakibat fatal jika ribuan kilogram zat beracun tersebut tumpah ke laut.

Langkah Selanjutnya bagi Kepolisian

Saat ini, barang bukti berupa puluhan karung sianida telah diamankan di Mapolres Kepulauan Sitaro untuk penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga tengah berkoordinasi dengan ahli lingkungan dan pihak terkait untuk memastikan keamanan lokasi terdamparnya perahu tersebut agar tidak ada residu kimia yang tertinggal di pantai Balirangen.

Baca Juga Terbongkar! Predator Seksual Modus Loker Palsu Ditangkap di Surabaya Setelah Sekap Mahasiswi Makassar
Terbongkar! Predator Seksual Modus Loker Palsu Ditangkap di Surabaya Setelah Sekap Mahasiswi Makassar

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi otoritas keamanan laut di Sulawesi Utara untuk memperketat pengawasan terhadap lalu lintas kapal-kapal kecil yang seringkali luput dari pemeriksaan manifes kargo. Misteri kematian JKD dan pelarian Yus kini menjadi kunci utama bagi polisi untuk membongkar siapa aktor intelektual di balik bisnis gelap sianida yang mempertaruhkan nyawa para pekerja dan kelestarian alam nusantara.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *