Polemik Kericuhan di Stadion BJ Habibie: Antara ‘Tradisi’ Akhir Musim dan Bayang-bayang Sanksi Berat

Hisan Halibin | KabarHarian
19 May 2026, 14:11 WIB
Polemik Kericuhan di Stadion BJ Habibie: Antara 'Tradisi' Akhir Musim dan Bayang-bayang Sanksi Berat

KabarHarian — Gejolak di Stadion Gelora BJ Habibie (GBH) Parepare pasca-laga sengit antara PSM Makassar melawan Persib Bandung masih meninggalkan residu persoalan yang panjang. Pertandingan yang seharusnya menjadi panggung sportivitas justru ternoda oleh aksi oknum suporter yang merangsek masuk ke dalam lapangan. Namun, yang lebih mengejutkan publik ketimbang aksi anarkis tersebut adalah respons dari pihak berwenang yang terkesan ‘adem ayem’ menanggapi insiden fisik yang menimpa pemain profesional.

Hingga saat ini, pihak kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa mereka belum melakukan penyelidikan mendalam terkait aksi penendangan yang dilakukan oleh oknum suporter terhadap penggawa Persib Bandung. Alibi utama yang dikemukakan adalah nihilnya laporan resmi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Ketidakhadiran laporan hukum ini membuat kasus tersebut seolah menggantung di wilayah abu-abu, meskipun bukti digital berupa video rekaman telah tersebar luas di jagat maya.

Polisi Sebut Aksi Kejar-kejaran Sebagai Bentuk Aspirasi

Kasat Reskrim Polres Parepare, AKP Muh Saleh, secara tegas menyatakan bahwa pihaknya belum bisa melangkah lebih jauh dalam ranah hukum pidana. “Sampai saat ini memang belum ada laporan resmi yang masuk ke meja kami,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada tim KabarHarian. Pernyataan ini seolah memberikan sinyal bahwa tanpa adanya aduan dari pihak Persib Bandung atau manajemen pemain, kepolisian tidak akan melakukan tindakan proaktif.

Baca Juga Jeritan 1.700 PPPK Paruh Waktu Maluku Tengah: Lima Bulan Mengabdi Tanpa Upah, Bagaimana Nasib Mereka?
Jeritan 1.700 PPPK Paruh Waktu Maluku Tengah: Lima Bulan Mengabdi Tanpa Upah, Bagaimana Nasib Mereka?

Senada dengan bawahannya, Kapolres Parepare AKBP Indra Waspada Yuda memberikan perspektif yang cukup unik sekaligus kontroversial terkait insiden tersebut. Menurut pengamatannya, aksi suporter yang turun ke lapangan dan terlihat mengejar pemain hanyalah sebuah bentuk ‘riak-riak’ emosional yang lazim terjadi dalam atmosfer sepak bola Indonesia. Ia menilai bahwa apa yang tertangkap kamera sebagai aksi kejar-kejaran sebenarnya dipicu oleh respons refleks dari kedua belah pihak.

“Itu bukan seperti yang kita perkirakan, bukan murni mengejar untuk melukai pemain. Itu riak-riak di lapangan saja. Mungkin ada refleks dari pemain yang berlari, sehingga terlihat seperti kejar-kejaran,” jelas Indra. Lebih jauh lagi, ia melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola dengan menyebut aksi tersebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan tradisi tahunan di akhir musim kompetisi.

Kronologi Kericuhan: Flare, Smoke Bomb, dan Penyerangan Pemain

Peristiwa ini bermula ketika peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiup oleh wasit. Persib Bandung berhasil mencuri poin penuh di kandang ‘Juku Eja’ dengan skor tipis 2-1. Kekalahan PSM di hadapan pendukungnya sendiri rupanya memicu kekecewaan mendalam bagi sebagian penonton yang memadati tribun Stadion Gelora BJ Habibie. Atmosfer stadion yang semula riuh dengan dukungan, berubah drastis menjadi mencekam.

Baca Juga Update Klasemen Piala Asia U-17 2026: Indonesia Berpeluang Kunci Tiket Perempat Final Saat Ladeni Qatar
Update Klasemen Piala Asia U-17 2026: Indonesia Berpeluang Kunci Tiket Perempat Final Saat Ladeni Qatar

Sejumlah oknum suporter mulai menyalakan flare, petasan, hingga smoke bomb yang membuat pandangan di dalam stadion menjadi terbatas akibat asap pekat. Tak berhenti di situ, pagar pembatas stadion yang seharusnya menjadi benteng pengaman justru dilompati dengan mudah. Massa yang emosional merangsek masuk ke area pitch, memaksa para pemain Persib Bandung untuk segera menyelamatkan diri ke ruang ganti.

Dalam rekaman amatir yang viral, terlihat jelas setidaknya dua pemain Persib, yakni bek senior Achmad Jufriyanto dan pemain muda Dion Markx, menjadi sasaran kontak fisik. Keduanya sempat terlihat mendapat tendangan saat berusaha berlari menuju lorong pemain. Insiden ini tentu menjadi catatan kelam bagi manajemen keamanan pertandingan, mengingat keselamatan pemain adalah prioritas utama dalam setiap gelaran olahraga profesional.

Permohonan Maaf dari ‘Adit’, Sang Oknum Penendang

Di tengah tekanan publik yang menuntut pertanggungjawaban, salah satu oknum suporter yang terlibat dalam aksi penendangan akhirnya muncul ke permukaan. Pria yang mengidentifikasi dirinya sebagai Adit ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui sebuah rekaman video. Dengan nada penuh penyesalan, ia mengaku tindakannya tersebut dilakukan atas dasar kekhilafan dan spontanitas semata.

Baca Juga Menakar Hilal Idul Adha 2026: Strategi Kemenag dan Sebaran 88 Titik Pemantauan di Seluruh Pelosok Negeri
Menakar Hilal Idul Adha 2026: Strategi Kemenag dan Sebaran 88 Titik Pemantauan di Seluruh Pelosok Negeri

“Saya atas nama Adit, secara pribadi ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan, terutama para staf, jajaran pelatih, dan para pemain Persib Bandung. Saya sadar tindakan saya telah mencoreng citra sepak bola kita,” ungkap Adit. Ia menjelaskan bahwa emosinya tersulut saat melihat penonton lain sudah lebih dulu melompat ke lapangan. Ia merasa terpancing untuk ikut serta tanpa memikirkan konsekuensi hukum maupun dampak bagi klub yang ia cintai.

Selain meminta maaf kepada kubu Persib, Adit juga menyampaikan permohonan ampun kepada manajemen PSM Makassar dan kelompok suporter PSM Fans. Ia mengakui bahwa tindakannya tidak mewakili nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh para pecinta sejati PSM dan justru merusak nama baik Kota Daeng sebagai kota yang ramah bagi tamu olahraga.

Tantangan Keamanan dan Evaluasi Menyeluruh Stadion GBH

Kericuhan ini memicu diskursus panjang mengenai standar keamanan di Stadion Gelora BJ Habibie. Sebagai markas PSM Makassar, stadion ini seharusnya memiliki protokol keamanan yang mampu mengantisipasi lonjakan emosi suporter, terutama dalam laga-laga krusial. Penggunaan flare dan kembang api yang secara masif bisa masuk ke dalam tribun menjadi bukti adanya celah besar dalam proses sterilisasi penonton di pintu masuk.

Baca Juga Jadwal dan Besaran Gaji 13 Pensiunan PNS 2026: Simak Rincian Lengkap dan Estimasi Pencairannya
Jadwal dan Besaran Gaji 13 Pensiunan PNS 2026: Simak Rincian Lengkap dan Estimasi Pencairannya

Beberapa poin evaluasi yang kini mengemuka antara lain:

  • Lemahnya pengawasan di area perimeter lapangan yang memungkinkan suporter masuk dengan mudah.
  • Kurangnya personel keamanan (steward) yang terlatih untuk menangani manajemen massa dalam situasi darurat.
  • Perlunya edukasi berkelanjutan bagi kelompok suporter agar tidak meluapkan kekecewaan secara anarkis.
  • Penegakan regulasi PSSI yang lebih ketat terkait insiden masuknya penonton ke dalam lapangan.

Meskipun pihak kepolisian menganggap ini sebagai ‘tradisi’, banyak pihak khawatir jika pembiaran terhadap aksi semacam ini akan menjadi preseden buruk bagi masa depan liga nasional. Keamanan pemain tidak boleh dikompromikan hanya atas nama luapan aspirasi. Dunia internasional kini tengah menyoroti transformasi sepak bola Indonesia, dan insiden seperti di Parepare ini tentu menjadi kerikil tajam dalam proses transformasi tersebut.

Menanti Langkah Tegas Komdis PSSI

Jika kepolisian masih menunggu laporan pidana, publik kini menaruh harapan pada Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Berdasarkan kode disiplin sepak bola, klub tuan rumah bertanggung jawab penuh atas keamanan dan ketertiban di dalam stadion. Sanksi berupa denda besar hingga larangan bertanding dengan penonton menghantui PSM Makassar akibat ulah segelintir oknum tersebut.

Baca Juga Tragedi Maut di Puncak Dukono: Jerat Hukum bagi Penyelenggara Open Trip yang Abaikan Nyawa demi Keuntungan
Tragedi Maut di Puncak Dukono: Jerat Hukum bagi Penyelenggara Open Trip yang Abaikan Nyawa demi Keuntungan

Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen sepak bola tanah air bahwa fanatisme haruslah dibarengi dengan nalar dan rasa hormat. Tanpa itu, sepak bola hanya akan menjadi arena permusuhan yang menjauhkan diri dari esensi sportivitas. Kini, bola panas berada di tangan otoritas sepak bola dan manajemen klub untuk memastikan bahwa ‘tradisi’ kekerasan tidak lagi memiliki tempat di lapangan hijau Indonesia.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *