Kualitas Organik Terhimpit Pasar: Keluh Kesah Peternak Kambing Pupuan Tabanan Jelang Idul Adha 2026
KabarHarian — Menjelang momentum besar Hari Raya Idul Adha 1447 H yang jatuh pada tahun 2026, atmosfer di sentra peternakan kambing Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali, justru terasa kontras dengan gegap gempita persiapan kurban. Di tengah ketersediaan pasokan hewan ternak yang melimpah dan berkualitas prima, para peternak lokal kini sedang berhadapan dengan kenyataan pahit: lesunya angka penjualan yang jauh di bawah ekspektasi tahunan.
Desa Pujungan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung ternak kambing di Bali Barat karena kondisi alamnya yang subur, kini tampak lebih tenang dari biasanya. Tidak terlihat hilir mudik truk pembeli atau tengkulak yang biasanya sudah mulai memadati kandang-kandang penduduk sebulan sebelum hari raya tiba. Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam bagi masyarakat setempat yang menggantungkan harapan ekonomi mereka pada momen tahunan ini.
Ironi di Balik Melimpahnya Stok Hewan Kurban
Perbekel Desa Pujungan, I Gede Rima Yasa, dalam sebuah wawancara eksklusif menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami warganya. Menurutnya, kesiapan para peternak di wilayahnya sebenarnya sudah mencapai seratus persen. Kambing-kambing yang dipelihara telah memenuhi segala kriteria syariat untuk dijadikan hewan kurban, mulai dari usia yang cukup hingga kondisi fisik yang sehat dan gemuk.
“Secara teknis, tidak ada masalah dengan ternak kami. Sebagian besar kambing peliharaan warga di sini sudah sangat siap untuk dipasarkan sebagai hewan kurban. Namun, realita di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga pertengahan Mei ini, jumlah pembeli yang datang langsung ke peternak masih sangat sepi,” ujar Rima Yasa dengan nada rendah, Senin (18/5/2026).
Situasi ini dianggap aneh mengingat dalam catatan tahun-tahun sebelumnya, wilayah Pupuan selalu menjadi magnet bagi para pencari hewan kurban dari berbagai kota di Bali. Kualitas kambing dari daerah pegunungan ini biasanya memiliki nilai tawar tinggi di mata konsumen karena pola pemeliharaannya yang unik.
Ancaman Serbuan Ternak Luar Daerah
Dugaan kuat penyebab lesunya pasar lokal di Desa Pujungan mengarah pada masuknya hewan ternak dari luar Pulau Bali. Meskipun Bali memiliki regulasi ketat terkait lalu lintas ternak untuk menjaga status kesehatan hewan, realitas pasar menunjukkan adanya tekanan harga dan pasokan yang diduga berasal dari luar daerah. Hal ini membuat serapan pasar terhadap kambing lokal Tabanan menjadi terhambat.
Rima Yasa mengungkapkan bahwa persaingan harga menjadi tantangan utama. Peternak lokal yang mengandalkan kualitas dan pemeliharaan tradisional kesulitan bersaing dengan harga komoditas ternak yang masuk secara masif dari luar. “Dulu, peternak kami sudah memiliki langganan tetap, baik itu pengecer maupun perorangan dari luar kabupaten. Namun sekarang, mereka mengaku sulit bersaing karena pasar sudah dipenuhi oleh stok lain,” tambahnya.
Meskipun data resmi mengenai volume masuknya ternak luar belum dirilis secara mendetail oleh instansi terkait, keluhan senada sudah terdengar merata di kalangan para peternak di pelosok desa. Mereka merasakan langsung bagaimana para pembeli yang biasanya aktif kini mulai beralih atau justru menahan diri karena adanya pilihan harga yang dianggap lebih kompetitif, meski belum tentu menjamin kualitas yang sama dengan produk lokal.
Keunggulan Kambing Pupuan: Pakan Alami dan Sistem Organik
Padahal, jika menelisik lebih dalam, kambing dari Kecamatan Pupuan memiliki keistimewaan yang sulit ditemukan di daerah lain. Letak geografis Desa Pujungan yang berada di dataran tinggi menyediakan sumber pakan alami yang melimpah sepanjang tahun. Para peternak memanfaatkan dedaunan hijau dari perkebunan kopi dan cengkih yang dikelola secara organik sebagai makanan utama ternak mereka.
Sistem pemeliharaan ini menghasilkan daging yang tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki tekstur yang lebih empuk dan aroma yang lebih segar dibandingkan kambing yang diberi pakan konsentrat pabrikan. “Potensi peternakan kami didukung sepenuhnya oleh alam. Kambing-kambing di sini tumbuh dengan pakan alami, tanpa bahan kimia. Inilah yang membuat dagingnya lebih dicari oleh mereka yang paham kualitas,” papar Rima Yasa.
Bagi warga Desa Pujungan, beternak kambing bukan sekadar hobi, melainkan instrumen ekonomi yang krusial. Tercatat sekitar 20 persen dari total populasi petani di desa tersebut memiliki usaha sampingan berupa peternakan kambing. Dengan rata-rata kepemilikan 10 ekor per orang, penjualan di musim Idul Adha seharusnya menjadi modal besar bagi mereka untuk memutar kembali roda ekonomi rumah tangga atau membiayai kebutuhan pendidikan anak.
Harapan Intervensi Pemerintah di Sektor Hilir
Melihat kondisi yang kian mencekik ini, pemerintah desa berharap ada langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Tabanan maupun Pemerintah Provinsi Bali untuk turun tangan. Selama ini, bantuan seringkali difokuskan pada sektor hulu seperti pemberian bibit atau vitamin, namun penguatan di sektor hilir yakni pemasaran masih dirasa sangat minim.
“Kami tidak ingin usaha yang sudah dirintis warga dengan keringat sendiri ini berakhir dengan kerugian besar. Potensi peternakan organik di Desa Pujungan ini luar biasa besar, namun tanpa dukungan pemasaran yang kuat dan perlindungan terhadap serbuan produk luar, potensi tersebut sulit untuk berkembang,” tegas Rima Yasa menutup pembicaraan.
Diperlukan sebuah ekosistem pasar yang mampu mempertemukan peternak lokal langsung dengan konsumen akhir atau lembaga-lembaga penyalur kurban. Dengan sisa waktu beberapa minggu menuju hari raya, para peternak di Desa Pujungan masih menaruh harap agar kandang-kandang mereka segera dikunjungi pembeli, membawa kabar baik bagi dapur mereka yang kini tengah menanti kepastian ekonomi.