Kisah Inspiratif Nyoman Budi Arsa, Peternak Gen Z Asal Klungkung yang Sapinya Diborong Presiden Prabowo untuk Idul Adha

Andre Pratama | KabarHarian
18 May 2026, 18:11 WIB
Kisah Inspiratif Nyoman Budi Arsa, Peternak Gen Z Asal Klungkung yang Sapinya Diborong Presiden Prabowo untuk Idul Adha

KabarHarian — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan pergeseran minat generasi muda Bali ke sektor pariwisata, sebuah narasi membanggakan muncul dari sudut Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. I Nyoman Budi Arsa, seorang pemuda berusia 25 tahun yang merepresentasikan kegigihan Generasi Z, berhasil menarik perhatian orang nomor satu di Indonesia. Sapi hasil jerih payahnya terpilih sebagai hewan kurban bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk perayaan Idul Adha tahun ini.

Kisah Arsa bukan sekadar tentang transaksi jual beli hewan ternak, melainkan potret keberhasilan seorang pemuda yang berani melawan arus. Ketika rekan-rekan sebayanya lebih memilih bekerja di hotel berbintang atau kapal pesiar, Arsa justru memilih berkubang dengan jerami dan mendedikasikan waktunya di kandang. Ketekunannya membuahkan hasil manis; seekor sapi seberat kurang lebih 600 kilogram (kg) miliknya dibeli oleh Presiden dengan nilai fantastis mencapai Rp 60 juta.

Kebanggaan Sang Peternak Muda dari Desa Gunaksa

Saat ditemui oleh tim KabarHarian di kandang miliknya pada Senin sore, suasana haru sekaligus bangga terpancar dari wajah Arsa. Pemuda kelahiran tahun 2001 ini mengaku tidak pernah menyangka bahwa sapi yang ia rawat dengan sepenuh hati akan menyandang status sebagai ‘Sapi Presiden’. Baginya, pencapaian ini adalah validasi atas pilihannya menekuni dunia peternakan sejak usia dini.

Baca Juga Aksi Lihai ‘Sindikat Emas Palsu’ Emak-emak di Lombok Berakhir di Jeruji Besi: Begini Kronologinya
Aksi Lihai ‘Sindikat Emas Palsu’ Emak-emak di Lombok Berakhir di Jeruji Besi: Begini Kronologinya

“Saya sudah dua kali memelihara sapi dengan ukuran besar. Ada kepuasan tersendiri melihat mereka tumbuh sehat dan kuat. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda dan jauh lebih membanggakan karena pembelinya adalah Bapak Presiden sendiri,” ungkap Arsa dengan nada bicara yang penuh semangat. Sebagai peternak yang tergolong paling muda di wilayah Klungkung, prestasi ini menjadi tonggak sejarah baru dalam kariernya yang baru seumur jagung.

Melawan Arus: Memilih Kandang Ketimbang Pariwisata

Pilihan Arsa untuk menjadi peternak bukanlah keputusan yang diambil secara mendadak. Minatnya sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di saat teman-temannya sibuk memikirkan cara menembus industri perhotelan, Arsa justru mempelajari teknik penggemukan sapi dan manajemen pakan.

Ia menceritakan keprihatinannya terhadap minimnya regenerasi petani dan peternak di daerahnya. Menurut pengamatannya, sekitar 70 persen teman-teman seangkatannya telah meninggalkan desa untuk mencari peruntungan di sektor pariwisata, baik di Bali selatan maupun ke luar negeri. Sektor pertanian dan peternakan seringkali dianggap kurang bergengsi dan tidak menjanjikan secara finansial oleh generasinya.

Baca Juga Aksi Senyap Spesialis Bedeng di Denpasar Berakhir: Kronologi Penangkapan Pencuri Ponsel Buruh Proyek yang Meresahkan
Aksi Senyap Spesialis Bedeng di Denpasar Berakhir: Kronologi Penangkapan Pencuri Ponsel Buruh Proyek yang Meresahkan

“Sangat jarang ada anak muda di Klungkung yang mau turun ke kandang. Saya berharap momentum ini bisa menjadi bukti nyata bagi teman-teman sebaya saya bahwa sektor peternakan, jika ditekuni dengan serius, bisa menghasilkan kesuksesan yang luar biasa. Saya ingin menunjukkan bahwa Gen Z juga bisa berjaya di sektor pangan,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Siklus Ekonomi Kreatif di Tangan Gen Z

Strategi bisnis yang diterapkan Arsa tergolong cerdas dan terukur. Ia memanfaatkan momentum hari raya keagamaan seperti Idul Adha sebagai peluang emas untuk memutar modal. Arsa mengenang kembali awal perjalanannya saat membeli bibit sapi pertama seharga Rp 13 juta. Dengan ketelatenan dalam perawatan dan pemberian pakan yang berkualitas, hanya dalam waktu 10 bulan, sapi tersebut laku terjual seharga Rp 23 juta menjelang hari raya kurban.

“Keuntungan dari penjualan pertama itu tidak saya gunakan untuk konsumsi pribadi, melainkan saya putar kembali untuk membeli bibit yang lebih unggul. Begitu terus polanya hingga sekarang saya bisa menghasilkan sapi seberat 600 kg ini,” jelasnya. Model bisnis berkelanjutan ini menunjukkan bahwa Arsa memiliki jiwa kewirausahaan yang matang, sebuah karakteristik yang sangat dibutuhkan untuk memajukan ekonomi pedesaan.

Baca Juga Gebrakan GT World Challenge Asia 2026 di Mandalika: 44 Pembalap Elite Siap Beradu Kecepatan, Tiket Mulai Rp 50 Ribu
Gebrakan GT World Challenge Asia 2026 di Mandalika: 44 Pembalap Elite Siap Beradu Kecepatan, Tiket Mulai Rp 50 Ribu

Standar Ketat Sapi Pilihan Presiden

Tentu bukan perkara mudah bagi seekor sapi untuk bisa masuk dalam kriteria bantuan presiden. Proses seleksi dilakukan secara ketat untuk memastikan hewan tersebut layak secara medis dan fisik. Dokter hewan dari Puskeswan Klungkung, drh. AA Gde Darma Putra, menjelaskan bahwa sapi milik Arsa terpilih karena memenuhi semua aspek persyaratan yang ditetapkan.

Menurut Agung, syarat utama bukan hanya soal berat badan, tetapi juga kesehatan menyeluruh yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium. Sapi tersebut harus terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) serta memiliki postur yang proporsional. “Kami melakukan pemeriksaan mendalam, dan kebetulan sapi yang dirawat oleh Arsa adalah yang terbaik dan terbesar di daerah ini. Selain bobotnya yang mencapai 6 kuintal, kondisi kesehatannya sangat prima,” terang Agung.

Sapi jumbo ini rencananya akan dikirim ke lokasi pemotongan pada H-1 Idul Adha. Tujuan distribusinya adalah untuk pengurus Masjid Hasanudin, Kelurahan Semarapura Tengah, Klungkung. Hal ini juga menunjukkan indahnya toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Bali, di mana seorang peternak Hindu menyediakan hewan kurban terbaik untuk saudara-saudara Muslim.

Baca Juga Tragedi di Sumba Timur: Keluar Penjara, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung Hingga Hamil
Tragedi di Sumba Timur: Keluar Penjara, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung Hingga Hamil

Harapan untuk Masa Depan Peternakan Indonesia

Melalui pencapaiannya ini, Arsa menitipkan pesan dan harapan besar kepada pemerintah. Ia berharap agar dukungan terhadap petani dan peternak muda semakin ditingkatkan, terutama dalam hal akses permodalan dan edukasi teknologi peternakan modern. Menurutnya, generasi muda membutuhkan insentif dan pendampingan agar tidak ragu untuk terjun ke sektor agraris.

Keberhasilan Nyoman Budi Arsa adalah sebuah oase di tengah isu krisis pangan dan menurunnya minat pemuda terhadap sektor pertanian. Dengan semangat yang ia miliki, Arsa telah membuktikan bahwa dengan dedikasi, inovasi, dan kerja keras, seorang peternak muda dari pelosok desa pun bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan menarik perhatian pemimpin tertinggi negara.

Kini, Arsa terus menatap masa depan dengan optimisme tinggi. Ia berencana untuk terus mengembangkan kapasitas kandangnya dan mengajak lebih banyak anak muda di Desa Gunaksa untuk kembali ke akar, membangun kedaulatan pangan melalui tangan-tangan kreatif generasi muda.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *