Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi

Andre Pratama | KabarHarian
15 May 2026, 18:07 WIB
Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi

KabarHarian — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menyisakan duka bagi masyarakat di pelosok daerah. Pada Jumat, 15 Mei 2026, Desa Manong yang terletak di Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, menjadi saksi bisu keganasan alam. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur tanpa henti mengakibatkan banjir bandang yang merendam permukiman warga, memaksa puluhan jiwa meninggalkan kediaman mereka demi keselamatan nyawa.

Laporan yang dihimpun oleh tim redaksi di lapangan menyebutkan bahwa setidaknya delapan unit rumah warga terendam air dengan ketinggian yang cukup mengkhawatirkan. Akibat kejadian ini, sebanyak sembilan Kepala Keluarga (KK) harus merelakan hunian mereka tergenang lumpur dan air, lalu memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman di rumah-rumah kerabat maupun warga sekitar yang posisinya lebih tinggi.

Skala Dampak dan Sebaran Wilayah Terdampak

Kepala Desa Manong, Vinsensius Jebarus, memberikan keterangan resmi terkait kondisi terkini di wilayahnya. Menurutnya, dampak banjir kali ini cukup merata di beberapa titik dusun yang selama ini memang dianggap rawan saat musim penghujan tiba. Kecepatan air yang datang secara tiba-tiba membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk menyelamatkan harta benda mereka.

Baca Juga Drama Sidang Korupsi NTB: Saksi Kunci ‘Uang Siluman’ Hilang Misterius Jelang Persidangan
Drama Sidang Korupsi NTB: Saksi Kunci ‘Uang Siluman’ Hilang Misterius Jelang Persidangan

“Benar, ada total sembilan KK yang saat ini telah mengungsi. Kondisi delapan rumah tersebut sangat terdampak dan tidak memungkinkan untuk ditempati sementara waktu karena genangan air dan material lumpur yang masuk ke dalam rumah,” ujar Vinsensius dengan nada prihatin saat memberikan konfirmasi kepada awak media.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Pemerintah Desa Manong, sebaran kerusakan dan dampak banjir ini mencakup tiga dusun utama. Dusun Garang tercatat sebagai wilayah dengan dampak terparah, di mana terdapat enam unit rumah yang terendam air. Sementara itu, di Dusun Lada dan Dusun Laru, masing-masing terdapat satu unit rumah yang terdampak. Menariknya, salah satu rumah di Dusun Laru diketahui dihuni oleh dua Kepala Keluarga sekaligus, sehingga menambah daftar panjang jumlah pengungsi yang harus segera ditangani.

Kronologi dan Pemicu Banjir dari Area Perkebunan

Banjir ini tidak terjadi begitu saja. Dalam beberapa hari terakhir, langit Manggarai memang tampak muram dengan curah hujan yang sangat tinggi disertai angin kencang yang menderu. Kondisi geografis Desa Manong yang dikelilingi oleh perbukitan dan lahan pertanian menjadi faktor krusial dalam peristiwa ini.

Baca Juga Melacak Jejak Lamaholot di Pesisir Asam Satu: Rinca Ranca Festival dan Misi Besar Mengasuh Budaya Sejak Dini
Melacak Jejak Lamaholot di Pesisir Asam Satu: Rinca Ranca Festival dan Misi Besar Mengasuh Budaya Sejak Dini

Vinsensius menjelaskan bahwa banjir kali ini merupakan akumulasi dari limpasan air hujan yang berasal dari area perkebunan warga yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Di area tersebut, lahan didominasi oleh tanaman musiman seperti kacang tanah dan jagung yang belum mampu menahan laju air secara maksimal saat curah hujan ekstrem melanda.

“Air hujan yang jatuh di perkebunan bagian atas pemukiman mengalir deras ke bawah. Karena tanaman jagung dan kacang tanah tidak memiliki sistem perakaran yang kuat untuk menyerap air dalam volume besar, air tersebut akhirnya mengalir menuju sebuah kali mati yang letaknya sangat dekat dengan permukiman warga. Kali mati ini kemudian meluap dan mengirimkan debit air besar ke rumah-rumah penduduk,” jelasnya secara mendalam.

Kondisi Pengungsi dan Kebutuhan Mendesak

Saat ini, sembilan keluarga yang kehilangan tempat tinggal sementara tengah bertahan dalam keterbatasan. Mereka menumpang di rumah tetangga atau saudara yang tidak terdampak banjir. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, kerugian materiil diperkirakan cukup signifikan, mengingat banyak peralatan rumah tangga dan stok pangan yang rusak terendam air banjir yang bercampur tanah.

Baca Juga Optimalkan Layanan Adminduk, Ribuan Warga Denpasar Masih Belum Melakukan Perekaman e-KTP
Optimalkan Layanan Adminduk, Ribuan Warga Denpasar Masih Belum Melakukan Perekaman e-KTP

Warga yang mengungsi saat ini sangat membutuhkan bantuan darurat, terutama berupa bahan makanan, pakaian layak pakai, serta perlengkapan tidur. Selain itu, kebutuhan akan air bersih menjadi prioritas utama karena sumber-sumber air di desa tersebut tercemar oleh sisa-sisa banjir.

Kondisi psikologis warga pun menjadi perhatian. Beberapa anak-anak dan lansia tampak masih trauma dengan kejadian banjir yang datang begitu cepat di sore hari tersebut. Kehadiran pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sangat diharapkan untuk segera melakukan asesmen dan penyaluran bantuan logistik di titik pengungsian.

Ancaman Cuaca Ekstrem di Nusa Tenggara Timur

Banjir di Desa Manong ini seolah menjadi pengingat akan kerentanan wilayah NTT terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Kabupaten Manggarai dengan topografinya yang berbukit memang menyimpan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di banyak titik.

Pemerintah daerah sebelumnya telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai atau di bawah lereng perbukitan. Namun, keterbatasan infrastruktur drainase di wilayah perdesaan seringkali membuat upaya mitigasi menjadi tidak maksimal saat berhadapan dengan volume air yang luar biasa besar.

Baca Juga Update Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini: Waspada Potensi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Wisata
Update Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini: Waspada Potensi Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Wisata

Masyarakat diharapkan untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG dan tidak memaksakan diri untuk bertahan di dalam rumah jika tanda-tanda luapan air mulai terlihat. Keselamatan jiwa harus tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian cuaca yang melanda Manggarai belakangan ini.

Harapan untuk Mitigasi Jangka Panjang

Pasca kejadian ini, Kepala Desa Manong dan tokoh masyarakat setempat berharap adanya langkah nyata dari pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki tata kelola air dan drainase di wilayah tersebut. Pemanfaatan lahan di area perbukitan juga perlu dievaluasi kembali agar tidak hanya berfokus pada hasil pertanian, tetapi juga memperhatikan fungsi konservasi lahan.

Penanaman pohon dengan akar kuat di area perkebunan lereng bukit disarankan sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya luapan air dari “kali mati” tersebut. Tanpa adanya perbaikan sistem drainase dan pola tanam yang ramah lingkungan, Desa Manong akan terus dihantui oleh ancaman banjir serupa setiap kali musim penghujan tiba.

Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Manong masih bahu-membahu membersihkan sisa-sisa lumpur di rumah yang airnya mulai surut. Meski demikian, kekhawatiran masih menyelimuti mereka, mengingat mendung tebal masih sering menggelayuti langit Manggarai, menandakan bahwa ancaman hujan deras belum sepenuhnya berakhir.

Baca Juga Misteri Kematian dan Upaya Pencurian Gigi Paus Sperma di Pantai Nusasari Jembrana
Misteri Kematian dan Upaya Pencurian Gigi Paus Sperma di Pantai Nusasari Jembrana
Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *