Zulhas di Kupang: Kelakar Kekalahan Prabowo hingga Misi Besar Hapus Ketergantungan Impor Pangan

Andre Pratama | KabarHarian
15 May 2026, 16:09 WIB
Zulhas di Kupang: Kelakar Kekalahan Prabowo hingga Misi Besar Hapus Ketergantungan Impor Pangan

KabarHarian — Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai gedung STIKOM Uyelindo Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, hadir memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa. Pria yang akrab disapa Zulhas ini tidak hanya membawa narasi serius mengenai kebijakan negara, tetapi juga menyisipkan kelakar politik yang segar mengenai perjalanan panjangnya bersama Prabowo Subianto di kancah pemilihan presiden.

Dalam kunjungannya pada Jumat (15/5/2026), Zulhas secara blak-blakan menyinggung soal kesetiaan politik yang melampaui angka-angka kemenangan. Di hadapan para civitas akademika, ia mengenang bagaimana dirinya tetap berdiri kokoh mendukung Prabowo Subianto meski harus menelan pil pahit kekalahan sebanyak tiga kali berturut-turut dalam edisi Pilpres sebelumnya.

Refleksi Kesetiaan di Tengah Dinamika Politik

Zulhas menekankan bahwa politik baginya bukan sekadar soal siapa yang menang, melainkan tentang komitmen terhadap cita-cita besar bangsa. Baginya, mendukung Prabowo selama bertahun-tahun adalah bentuk dedikasi terhadap visi yang diyakini bersama. Meski berkali-kali gagal meraih suara mayoritas, ia menegaskan bahwa pendiriannya tidak pernah goyah.

Baca Juga Kreativitas Tanpa Batas: Siswa SMKN 1 Klungkung Sulap Kulit Salak Jadi Mahakarya Ogoh-Ogoh Mini di Festival Semarapura
Kreativitas Tanpa Batas: Siswa SMKN 1 Klungkung Sulap Kulit Salak Jadi Mahakarya Ogoh-Ogoh Mini di Festival Semarapura

“Saya ini pendukung setia Pak Prabowo. Bayangkan, saya sudah dukung beliau dan kalah tiga kali. Tapi saya tidak berubah-ubah haluan. Kenapa? Karena kita setia kepada cita-cita. Kita setia dengan perjuangan yang sedang kita bangun untuk Indonesia,” ujar Zulhas yang disambut tepuk tangan riuh dari para mahasiswa.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti perbedaan perolehan suara yang cukup kontras di wilayah NTT antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo pada masa lalu. Dengan nada bergurau, Zulhas mengakui bahwa NTT sempat menjadi ‘basis pertahanan’ yang sulit ditembus bagi pihak Prabowo, sementara Jokowi selalu meraih kemenangan telak di wilayah tersebut.

“Dulu, Pak Prabowo itu kalah telak di NTT, sementara Pak Jokowi menang terus di sini. Itu kenyataan sejarahnya,” imbuh Zulhas sambil tertawa lepas yang diikuti gelak tawa dari seluruh hadirin yang memenuhi ruangan.

Misi Swasembada Pangan: Berdikari di Kaki Sendiri

Setelah mencairkan suasana dengan kelakar politik, Zulhas beralih ke topik yang jauh lebih substantif dan menjadi mandat utamanya saat ini, yakni kedaulatan pangan. Sebagai Menko Pangan, ia menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahan saat ini adalah mewujudkan swasembada pangan yang sejati, di mana Indonesia tidak lagi bergantung pada belas kasihan ekspor negara lain.

Baca Juga Jadwal Terbaru SIM Keliling Badung dan Klungkung 14 Mei 2026: Panduan Lengkap dan Syarat Perpanjangan
Jadwal Terbaru SIM Keliling Badung dan Klungkung 14 Mei 2026: Panduan Lengkap dan Syarat Perpanjangan

Menurutnya, ketergantungan pada impor pangan bukan hanya masalah teknis perdagangan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan petani lokal. Zulhas memberikan ilustrasi sederhana namun menohok mengenai arus perputaran uang dalam industri pangan dunia.

“Bayangkan jika kita terus-menerus impor. Saat kita membeli beras dari luar negeri, uang rakyat kita justru mengalir untuk memperkaya petani di Vietnam dan Thailand. Sebaliknya, jika kita berhasil swasembada, maka uang itu akan tetap berada di kantong petani-petani kita di dalam negeri. Produksi padi yang bagus akan linear dengan pendapatan petani yang bagus pula,” paparnya secara logis.

Saat ini, Zulhas mengungkapkan bahwa Indonesia telah menunjukkan tren positif pada komoditas beras dan jagung. Namun, perjalanan masih panjang untuk mencakup komoditas strategis lainnya. Ia mendesak para mahasiswa, khususnya di NTT, untuk mulai melirik sektor pertanian sebagai sektor yang menjanjikan, terutama dengan bantuan teknologi modern.

Teknologi dan Digitalisasi Pertanian Masa Depan

Zulhas berpendapat bahwa pola pikir pertanian tradisional harus segera bertransformasi menjadi pertanian berbasis teknologi. Di era digital ini, produktivitas petani bisa ditingkatkan berkali-kali lipat jika mereka mampu mengadopsi inovasi terbaru, mulai dari sistem irigasi pintar hingga manajemen lahan yang efisien.

Baca Juga Pesona Sherly Tjoanda di Bumi Gora: Kehangatan Warga Lombok Sambut Kehadiran Gubernur Maluku Utara
Pesona Sherly Tjoanda di Bumi Gora: Kehangatan Warga Lombok Sambut Kehadiran Gubernur Maluku Utara

“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara lama yang manual dan melelahkan. Mahasiswa STIKOM sebagai anak muda yang melek teknologi harus menjadi motor penggerak digitalisasi pertanian di NTT. Teknologi adalah kunci agar petani kita lebih produktif dan efisien,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa dengan sentuhan teknologi, wilayah NTT yang sering dianggap kering justru bisa menjadi lumbung pangan baru. Hal ini membutuhkan sinergi antara pemerintah yang menyediakan kebijakan, dan kalangan akademisi yang menyediakan solusi inovatif.

Memutus Rantai Rentenir Melalui Koperasi Merah Putih

Tak hanya bicara soal sawah dan ladang, Zulhas juga memberikan perhatian khusus pada nasib para nelayan di pesisir Indonesia. Ia mengidentifikasi bahwa salah satu masalah kronis yang menghambat kemajuan nelayan adalah ketergantungan pada rentenir atau ‘tengkulak’ yang seringkali mencekik leher mereka dengan bunga tinggi.

Sebagai solusi konkret, pemerintah berencana membangun ekosistem pendukung melalui pembentukan Kampung Nelayan dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Langkah ini diambil untuk memastikan para nelayan memiliki akses permodalan yang sehat dan pasar yang adil.

Baca Juga Kalender Konser Bali Mei 2026: Panggung Megah Musisi Papan Atas dari SID hingga Maliq & D’Essentials
Kalender Konser Bali Mei 2026: Panggung Megah Musisi Papan Atas dari SID hingga Maliq & D’Essentials

“Melalui Koperasi Nelayan Merah Putih, kita ingin memutus rantai ketergantungan nelayan pada rentenir. Kita ingin nelayan kita mandiri, punya alat tangkap yang memadai, dan hasil tangkapannya dihargai dengan harga yang pantas,” kata Ketua Umum PAN tersebut.

Zulhas menutup kuliah umumnya dengan pesan optimisme. Ia mengajak generasi muda di Kupang untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan besar ini, melainkan menjadi pelaku aktif dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Menurutnya, NTT memiliki potensi luar biasa yang jika dikelola dengan hati dan teknologi, akan menjadi pilar penting bagi masa depan Indonesia yang lebih mandiri.

Kunjungan ini pun diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dinamis, menunjukkan antusiasme mahasiswa NTT terhadap isu-isu krusial seperti ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan yang dibawa oleh sang Menteri.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *