Keajaiban dari Negeri Jiran: Kisah Ihsan, PMI Lombok Tengah yang ‘Hidup Kembali’ Setelah 19 Tahun Hilang Tanpa Kabar

Andre Pratama | KabarHarian
15 May 2026, 12:09 WIB
Keajaiban dari Negeri Jiran: Kisah Ihsan, PMI Lombok Tengah yang 'Hidup Kembali' Setelah 19 Tahun Hilang Tanpa Kabar

KabarHarian — Takdir seringkali menyimpan rahasia yang tidak bisa dinalar oleh akal sehat manusia. Di tengah keputusasaan sebuah keluarga di pelosok Lombok Tengah yang telah menganggap salah satu anggota keluarganya telah tiada, sebuah mukjizat tiba-tiba muncul melalui layar ponsel. Ini adalah kisah tentang Ihsan, atau yang akrab disapa Esan, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sempat dinyatakan hilang selama hampir dua dekade, namun secara mengejutkan kembali mengetuk pintu hati keluarganya melalui jagat maya.

Jejak yang Terhapus di Tahun 2007

Perjalanan panjang Esan dimulai pada tahun 2007, sebuah masa di mana komunikasi belum semudah hari ini. Warga Dusun Sape, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini berangkat ke Malaysia dengan satu harapan besar: memperbaiki taraf hidup keluarga di kampung halaman. Namun, alih-alih pundi-pundi ringgit yang datang, justru kesunyian panjang yang menyelimuti rumahnya selama 19 tahun terakhir.

Selama periode tersebut, nama Esan perlahan-lahan hanya menjadi kenangan pahit bagi orang tua dan kerabatnya. Tidak ada surat, tidak ada telepon, apalagi kiriman uang. Esan seolah-olah ditelan bumi di tengah hiruk-pikuk perkebunan atau proyek bangunan di Malaysia. Keluarga telah menempuh berbagai cara untuk mencari keberadaannya, namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya, doa-doa mereka mulai berubah dari permohonan agar Esan cepat pulang, menjadi doa agar ia tenang di alam sana.

Baca Juga Dominasi Total di Istanbul: Aston Villa Rengkuh Takhta Liga Europa Usai Gilas Freiburg 3-0
Dominasi Total di Istanbul: Aston Villa Rengkuh Takhta Liga Europa Usai Gilas Freiburg 3-0

Spekulasi Kapal Karam dan Luka yang Mendalam

Kehilangan kabar selama belasan tahun memicu berbagai spekulasi yang menyakitkan. Joni Sutangga, salah satu kerabat dekat Esan, menceritakan bagaimana keluarga sempat mendengar kabar burung tentang kecelakaan kapal laut pada tahun 2017. Saat itu, beredar informasi bahwa ada sebuah perahu yang mengangkut pekerja migran dari Malaysia menuju Batam tenggelam di tengah laut tanpa ada satu pun penumpang yang selamat.

“Kami sempat mendengar kabar ada boat menuju Batam yang tenggelam. Spekulasi itu sangat menyakitkan. Sebagian keluarga menganggap Esan ada di sana dan sudah tiada. Namun, sebagian lagi berusaha membohongi diri sendiri demi menghibur hati, berharap bahwa Esan tidak pernah menaiki kapal tersebut,” kenang Joni saat diwawancarai tim KabarHarian.

Waktu terus bergulir, dan setiap tahun yang berlalu tanpa kabar hanya mempertebal keyakinan warga desa bahwa Esan telah meninggal dunia. Logikanya sederhana: jika ia hanya dipenjara karena masalah dokumen, hukuman paling lama mungkin hanya satu atau dua tahun. Namun, 19 tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian tanpa kepastian.

Baca Juga Tragedi Kelam di Seketeng: Pasangan Lansia di Sumbawa Ditemukan Tewas, Diduga Dihabisi Teman Cucu Sendiri
Tragedi Kelam di Seketeng: Pasangan Lansia di Sumbawa Ditemukan Tewas, Diduga Dihabisi Teman Cucu Sendiri

Mukjizat di Selasa Malam: Sebuah Pesan Facebook

Segala keraguan dan kesedihan itu mendadak runtuh pada Selasa, 12 Mei 2026. Sekitar pukul 19.20 WITA, saat Joni sedang bersantai di rumah mertuannya di kawasan Batujai, sebuah notifikasi pesan masuk ke akun Facebook-nya. Seseorang yang menggunakan akun asing mengirim pesan singkat menanyakan nomor telepon Bahri, kakak kandung Esan.

Awalnya, Joni tidak menaruh curiga dan menganggap itu hanyalah ulah orang iseng atau penipuan yang marak terjadi di media sosial. Namun, ketika pengirim pesan tersebut memperkenalkan diri sebagai “Esan, adiknya Bahri”, jantung Joni berdegup kencang. Ia masih ragu, namun rasa penasaran mendorongnya untuk memberikan nomor ponselnya.

“Saya sempat skeptis. Akun yang digunakan bukan atas nama Esan. Tapi logat Sasaknya sangat kental, itu yang membuat saya penasaran. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan Video Call (VC). Dan Allahu Akbar, saat layar menyala, saya langsung gemetaran. Itu benar-benar wajah Esan, meski sudah jauh lebih tua,” ungkap Joni dengan nada emosional.

Dibalik Jeruji Besi Malaysia

Dalam percakapan singkat melalui video call tersebut, tabir gelap selama 19 tahun akhirnya tersingkap. Dengan raut wajah yang tampak lelah, gelisah, dan penuh kebingungan, Esan mengaku bahwa dirinya baru saja keluar dari penjara di Malaysia. Selama bertahun-tahun ia terisolasi dari dunia luar, tidak memiliki akses komunikasi, dan tidak mampu menghubungi keluarga di Indonesia.

Baca Juga Gelap Mata Akibat Judi, Pemuda di Mataram Tega Curi Motor Tetangga: Akhir Pelarian Opik di Tangan Polisi
Gelap Mata Akibat Judi, Pemuda di Mataram Tega Curi Motor Tetangga: Akhir Pelarian Opik di Tangan Polisi

Esan menceritakan bahwa setelah bebas, ia kini berada di bawah pengawasan otoritas imigrasi di Batam dan sedang menunggu proses pemulangan menuju Jakarta sebelum akhirnya diterbangkan ke Lombok. Satu-satunya informasi yang masih ia ingat dengan jelas adalah akun Facebook milik Joni, yang menjadi satu-satunya jembatan baginya untuk kembali ke pelukan keluarga.

Suasana Haru dan Isak Tangis di Desa Kabul

Begitu identitas Esan terkonfirmasi, Joni tidak membuang waktu. Ia segera memacu kendaraannya menuju Desa Kabul. Perjalanan yang biasanya terasa jauh, malam itu terasa begitu singkat karena desakan kabar gembira yang ia bawa. Sesampainya di rumah keluarga Esan, suasana yang awalnya tenang seketika berubah menjadi hiruk-pikuk penuh haru.

“Begitu saya tunjukkan video dan foto Esan, tangisan pecah di seluruh penjuru rumah. Adiknya langsung pingsan karena shock, sementara ibunya histeris berteriak memanggil nama Esan, memintanya segera pulang. Malam itu, Dusun Sape banjir air mata bahagia,” tulis tim KabarHarian menggambarkan situasi tersebut.

Kabar kepulangan “si anak hilang” ini pun dengan cepat menyebar dan menjadi viral di media sosial. Warga sekitar berbondong-bondong mendatangi rumah orang tua Esan untuk memberikan dukungan dan merayakan keajaiban tersebut. Bagi warga Desa Kabul, ini bukan sekadar berita kepulangan biasa, melainkan sebuah pengingat bahwa harapan tidak boleh benar-benar mati.

Baca Juga Panduan Ala Ayuning Dewasa 21 Mei 2026: Hari Baik Membuka Lahan dan Pantangan Penting Menurut Kalender Bali
Panduan Ala Ayuning Dewasa 21 Mei 2026: Hari Baik Membuka Lahan dan Pantangan Penting Menurut Kalender Bali

Menanti Kepulangan Sang Putra yang Hilang

Hingga laporan ini diturunkan, Esan dikabarkan telah sampai di Tanjung Priok, Jakarta, dan sedang menjalani proses administrasi pemulangan oleh instansi terkait. Keluarga di Lombok Tengah kini sedang bersiap-siap melakukan penjemputan. Persiapan penyambutan sederhana telah direncanakan untuk menyambut pahlawan devisa yang telah hilang selama hampir dua dekade tersebut.

Kisah Ihsan alias Esan ini menjadi cermin bagi ribuan PMI lainnya yang berjuang di negeri orang. Di balik setiap angka remitansi, ada kisah-kisah perjuangan, risiko, dan terkadang, kesunyian yang memisahkan mereka dari orang-orang terkasih. Kini, bagi keluarga Esan, penantian selama 19 tahun itu akhirnya berujung pada sebuah kata: pulang.

Keluarga besar Esan melalui Joni menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada semua pihak yang membantu proses komunikasi dan kepulangan Esan. “Kami hanya ingin dia segera sampai di rumah, memeluk ibunya, dan kembali memulai hidup di tanah kelahirannya sendiri,” pungkas Joni penuh harap.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *